Dimana Masa Depanmu ?

Passion Of The Christ

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Lukas 23 : 46 TB)

Minggu ini adalah minggu yang penuh dengan kenangan akan penderitaan Yesus di kayu salib 2000 tahun yang lalu demi dosa saya, anda, dan kita semua. Sejujurnya dalam sejarah hidup saya merayakan paskah, paskah kali ini adalah paskah yang paling mengena di hati saya karena Tuhan bicara begitu banyak pada paskah kali ini kedalam hidup saya.

Tadi siang Roh Kudus menanyakan saya suatu pertanyaan yang sederhana. Dia bertanya seperti ini ?

“Kalau seandainya kamu tahu bahwa di penghujung hidupmu kamu akan mati dicabik-cabik singa, apa yang akan kamu lakukan selama hidupmu ?”

Jawaban saya sederhana :

“Saya akan belajar bela diri dan mulai saat ini saya akan mempersiapkan segala yang bisa saya persiapkan untuk bisa mempertahankan hidup saya untuk menghadapi singa itu”

Roh Kudus melanjutkan pertanyaannya.

“Tahukah kamu bahwa Yesus tahu bahwa akhir hidupnya akan mati begitu sakit karena umat manusia ?”

Saya tidak mampu menjawab.

Lalu saya mulai merenungi, apa yang ada di benak Yesus sepanjang hidupNya ? bagaimana perasaannya ketika Dia pertama kali memanggil Yudas untuk menjadi muridNya (seorang murid yang Ia tahu suatu saat akan menciumNya dalam tipu muslihat) ? Bagaimana jeritan hatiNya ketika Ia harus menolong Petrus yang akan tenggelam di danau galilea dan pada saat yang bersamaan Ia juga tahu bahwa Petrus yang sama akan menyangkali dan meninggalkanNya disaat Ia sendiri ?

Waktu cambukan pertama mengena tubuhNya mungkin Ia berpikir “Ini untuk dosa perzinahan si Gideon nanti”, cambukan kedua Ia tahan sambil berpikir “Ini harga untuk kesombongan si Gideon”, dan masih banyak cambukan akibat dosa saya yang harus Dia tahankan. Sakitnya Tuhan itu adalah sakit yang menurut saya sangat mengerikan, karena Ia tidak bisa mati kecuali Ia yang menyerahkan nyawaNya sendiri. Bayangkan jika kamu menderita sakit yang begitu luar biasa tetapi kamu tidak bisa mati, sangat sakit bukan ?

Ketika semua dosa manusia selesai ditanggungNya baru Dia menyerahkan nyawaNya. Ia adalah kasih dan kasih itu sabar menanggung segala sesuatu. Tuhan saya itu ngajari saya beriman terhadap orang yang saya anggap tidak mungkin berubah, Tuhan itu ngajari saya untuk taat walaupun punya segala alasan untuk tidak taat, Tuhan itu ngajari saya untuk jangan menyerah walaupun semua sepertinya sia-sia.

Ada satu bagian lirik dari lagu “Above All” yang hampir selalu bikin saya menangis pas lirik itu dikumandangkan. Liriknya berbunyi :

“You took the fall, and thought of me above all”

“Engkau mengambil dosaku dan memikirkanku lebih dari apapun”

Di Tuhan yang model cintanya kayak gini saya taruh masa depan saya. Bagaimana dengan kamu ?

 

Dimana masa depanmu?

 

Cheers,

 

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s