Perumpaan Seorang Penabur (part1)

283423924_640

“Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.” (Matius 13 : 4 TB)

Hari itu hari adalah hari dimana saya sedang mempersiapkan bahan sharing untuk pertemuan rutin mingguan pendalaman alkitab di kantor saya. Saya begitu ingin membagikan tentang perumpaan 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh dalam menantikan sang mempelai, sampai tiba-tiba ketika sore hari saya sedang mandi Roh Kudus berbicara kepada saya untuk saya membagikan mengenai BERKAT.

Lalu saya tanya, “Berkat seperti apa Tuhan?”. Dia jawab “kamu pelajari tentang perumpaan seorang penabur di alkitab”, segera saya bereskan mandi saya dan mulai tenggelam dalam perumpaaan tentang penabur ini. Tuhan tanya sama saya “Menurut kamu penabur itu bodoh apa tidak?”, lalu saya jawab “tidak Tuhan”.  Lalu Tuhan bilang “waktunya sudah sangat singkat nak, Aku harus mencurahkan berkatKu kepada anak-anak-Ku”. Lalu saya tanya “kenapa Tuhan?” Tuhan bilang “Karena butuh berkat yang luar biasa untuk penuaian besar-besaran”, lalu saya tanya “Apa hubungannya dengan perumpamaan ini Tuhan?” dan Tuhan menjawab “Coba kamu lihat,  seluruh kondisi hati anak-anak-Ku baik itu jalan raya yang keras, berbatu-batu, semak duri, maupun tanah yang subur dapat benih tidak?” lalu saya jawab “iya yah Tuhan, semuanya dapat benih”.

Mendengar berkat seringkali orang langsung berbahagia tujuh turunan, seolah-olah semua masalah sirna. Padahal sebenarnya respon kita terhadap berkat yang Tuhan beri seringkali menetukan akhir hidup kita. Simson dipilih Tuhan sejak lahir, menerima berkat sebagai orang yang sangat teramat kuat, tetapi untuk sekian waktu Simson gagal untuk meresponi dengan berkat yang ia terima sehingga ada masa dalam hidupnya dimana dia menjadi pelawak buta.

Tuhan mulai mengajarkan saya, benih pertama itu jatuh di pinggir jalan kemudian dimakan oleh burung yang merupakan lambang dari Iblis. Pada kondisi tanah yang pertama, benih atau berkat yang Tuhan beri tidak bisa masuk sampai kedalam melainkan hanya berada di permukaan sehingga Iblis bisa mengambilnya. Lihat Ayub orang yang begitu kaya pada zamannya dan Tuhan sendiri memuji Ayub sebagai orang yang saleh. Karena kesalehan Ayub adalah sesuatu yang didalam Ayub maka iblis tidak bisa mengambil kesalehan daripada Ayub kecuali Ayub menyerahkannya sendiri kepada Iblis. Ketika Iblis lewat istrinya meminta Ayub untuk mengutuki Tuhan, Ayub tidak bergeming.

Sama seperti Ayub, apapun yang Tuhan beri dalam hidupmu pastikan itu tidak hanya merubah bentuk luar saja, jangan menjadi orang yang ketika Tuhan beri berkat yang berubah hanya tampilan luar-nya saja, rumah baru, tas baru, mobil baru, semua serba baru. Apakah salah dengan itu? tentu tidak, tetapi waspadalah karena semua itu bisa diambil oleh si Iblis, tetapi kalau kita menerima berkat Tuhan dan terjadi perubahan (ke arah yang lebih baik) dalam cara kita bersyukur, cara kita berdoa, cara kita menyembah, cara kita memberi persembahan maka semua itu tidak bisa diambil oleh si Iblis karena itu semua ada didalam kita.

Pada part 1 ini saya ingin membagikan bahwa apapun yang Tuhan akan beri kepada kita di masa akhir zaman ini, jangan biarkan hanya terjadi perubahan didaging kita melainkan biarlah akal budi kita, roh kita diperbaharui setiap saat.

Cheers,

 

 

BG

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s