Kekanak-kanakan

kid_boss__1248877733_4598

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Korintus 13 : 11 TB)

Dulu gua pernah ikut seminar pria sejati dan beberapa tagline dari seminar itu masi melotok kencang di pikiran gw, seperti “Perubahan bukanlah suatu perubahan sampai terjadi suatu perubahan”, “menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, menjadi pria sejati adalah masalah pilihan”.

Kata meninggalkan pada ayat diatas merupakan kata kerja/tindakan, jadi butuh suatu tindakan untuk pergi dari sifat kekanak-kanakan itu. Sama seperti kutipan pada paragraf sebelumnya “menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, menjadi pria sejati adalah masalah pilihan” begitu pula dengan keputusan kita meninggalkan kekanak-kanakan kita adalah masalah pilihan. Sifat itu akan tetap menjadi sifat alami kita kalau kita gak ambil keputusan untuk meninggalkannya. Ulat mengambil keputusan yang sulit dan penuh dengan tantangan untuk meninggalkan kepompongnya untuk menjadi kepompong.

Apa sih yang paling mendasar dari sifat kekanak-kanakan? menurut gua, salah satu yang paling mendasar adalah “tidak tahu apa artinya prioritas” yah setidaknya itulah yang gw alami di masa kecil gw. Maksudnya apa? gw males banget belajar, males banget ngeles, males banget ngerjain PR, dan lain lain. Sebenernya sih bukannya males, tapi gw merasa ada hal lain yang lebih menarik seperti main gobak sodor, maen nintendo di rumah temen, lari-larian, nonton Tv, dst. Pertanyannya adalah apakah gw harus belajar terus? nggak juga, gw juga butuh main. Masalahnya adalah gw gak bisa milih prioritas gw, harusnya gw kerjain semua PR yang ada, baru waktu yang tersisa gw pake buat istirahat. Istirahat pun seharusnya bisa gw isi lebih banyak untuk tidur siang bukan diabisin buat cuma main doang, yang penting saat gw melakukannya gw senang tidak perduli apa harganya nanti. Sekali lagi, namanya juga anak-anak :).

Dalam hubungan pribadi dengan Tuhan, kekanak-kanakan adalah sikap dimana kita gak tau prioritas. Bangun pagi, liat hape ada pesan dari siapa, si anu update status apa, profile picnya udah berubah, ada berita apa hari ini. Kalo kita sudah dewasa, kita tau banget bahwa prioritas kita adalah selalu Tuhan. Setiap saat mikirin kebutuhan pribadi sendiri terus, gak pernah mikirin kebutuhan Tuhan itu apa. Ngabisin waktu berjam-jam buat nonton bola yang skor akhirnya 0-0, dari mulai ulasan sebelum pertandingan, sampai ulasan setelah pertandingan semuanya dilahap. Bahkan berita 2 hari kemudian yang menceritakan tentang pertandingan yang skornya 0-0 itu pun masih dilahap (ini gw 🙂 lo apa ?). Paulus bilang tinggalkan itu semua, jadi itu semua adalah keputusan kita sendiri untuk tinggal disitu atau meninggalkan hal itu. Kalau ABRAM tidak meninggalkan UR-Kasdim mungkin Dia gak akan pernah jadi ABRAHAM yang menikmati tanah perjanjian.

Gua rasa gua adalah salah satu orang Kristen yang paling kekanak-kanakan, dan gw butuh kasih karunia banget untuk bisa meninggalkan kekanak-kanakan gua untuk menjadi lebih dewasa. Bagaimana dengan elo?

Cherrs,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s