SETIA

GreatThings

Tetapi Daud selalu pulang dari pada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem. (1 Samuel 17 : 15 TB)

Banyak orang berharap hidupnya dapat dipakai seperti Daud yang melakukan kehendak Allah pada zamannya dengan ajaib. Pertanyaannya apakah mungkin? sifat apa yang dominan didalam hidup Daud sehingga ruang untuk Allah bekerja dalam hidupnya begitu besar?

Setelah Daud diurapi Samuel menjadi raja atas Israel, Daud tidak serta merta mendapat istana dan segala kemegahannya, kehidupannya tetap diwarnai rutinitas yang kelihatannya tidak penting yaitu menggembalakan domba kepunyaan Ayahnya yang hanya berjumlah -+ 3 ekor. Memang setelah peristiwa pengurapan itu Daud masuk ke istana namun bukan sebagai raja melainkan hanya sebagai pemetik kecapi bagi Raja Saul yang sedang gundah karena ditinggal Tuhan.

Bisa saja Daud berkata kepada raja Saul “Aku sudah diurapi menjadi Raja, sekarang anda silakan turun dari Tahta” tetapi Daud mengambil sikap untuk meninggalkan istana dan segala kemewahannya untuk pulang dan kembali menjaga domba milik Ayahnya yang bukan milik Dia. Menurut penelitian saya ada jarak kurang lebih 12 KM yang harus ditempuh Daud untuk meninggalkan kenyamanannya di istana demi domba-domba Ayahnya.

Daud menulis  “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1 : 2 TB). Dia merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, karena perenungan itulah Dia belajar dari kesalahan Yusuf dan memastikan bahwa Dia tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam menunggu waktuNya Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus menunjukkan kemampuannya mengajar di Bait Allah ketika Ia masih sangat kecil semua orang terpukau. Lalu apa yang menjadi kelanjutan dari peristiwa itu ? TIDAK ADA!. Alkitab hanya mencatat Yesus taat kepada orang tuanya untuk pulang kerumah dan hidup dalam ketaatan.

Mengapa Daud memilih pulang dan mengurus domba Ayahnya? bahkan ketika Dia pergi melihat Kakak-Kakaknya di medan pertempuran Dia tetap menunjuk sesorang untuk menjaga Dombanya. Mungkin Dia sendiri tidak tahu, tidak betah, atau mungkin bosan tetapi dia memilih untuk TETAP SETIA.

Pada akhirnya Daud tahu bahwa domba inilah sarana pelatihan yang Allah berikan kepadaNya untuk menjadi Raja. Dia belajar cara bermain kecapi dan kecapi yang sama Ia mainkan dihadapan Saul, Dia belajar berani untuk menghadapi beruang dan keberanian yang sama Ia pakai untuk menghadapi Goliat.

Hari-hari ini minyak pengurapan Tuhan sudah dituang diatas kita, kita memiliki jaminan untuk menjadi besar, sukses, kaya, dan berhasil dalam anugrah Tuhan. Pertanyaanya apakah kita mau TETAP SETIA terhadap domba atau hal-hal yang sepertinya tidak penting yang Tuhan percayakan pada kita ?

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”(Lukas 16 :10)

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s