Nama Baik

increase-brand-value-with-social-media-770x470

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”  (Amsal 22:1 TB, penekanan oleh saya)

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menarik dengan teman saya yang memiliki posisi yang lumayan tinggi di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Dalam diskusi kami, dia menyampaikan pendapat yang menggelitik saya, dia bilang “Sekarang bisnis mah aneh Gid, kalau zaman dulu orang berpikir  untuk berinvestasi di bisnis yang secepat mungkin bisa balik modal, kalau zaman sekarang, mau rugi yang penting ekspansi.” Lalu dia mulai menyebut beberapa nama bisnis yang sekarang ini sangat familiar di kuping saya seperti Go**k, N** TV, Gr*b, To*****ia. Saya pun kemudian bertanya kepadanya apa alasan dibalik metode bisnis mereka, dan teman saya ini menjawab sederhana, dia bilang “brand value“. Ketimbang mengejar untung sesegera mungkin, perusahaan zaman sekarang lebih memilih mengejar nilai dari merek yang mereka jual. Kalau saya boleh saya artikan dengan bahasa saya sendiri, perusahaan lebih mengejar nama baik sebelum mengejar untung.

Jauh sebelum ini semua terjadi, Raja Salomo dengan segala kekayaannya (raja yang paling kaya, dan tidak akan pernah ada yang lebih dari kaya), menulis hal yang sama. Masalahnya adalah, apa yang sedang kita kejar saat ini?

Dalam kenyataan hidup seringkali kita juga diperhadapkan pada pilihan harus memilih nama baik atau kekayaan dan kita punya kecenderungan untuk memilih kekayaan. Mungkin dalam bisnis, kita diperhadapkan pada pilihan berupa keuntungan yang besar yang cepat tetapi merugikan orang lain atau “sekedar” nama baik. Mungkin dalam pekerjaan, kita harus memilih nama baik atau gaji yang besar dengan menginjak orang lain. Disaat itu semua terjadi, pilihlah nama baik.

Mengapa? Perusahaan yang memiliki nama baik, walaupun mungkin di awal terkesan rugi, ratusan perusahaan besar lain (yang sudah lebih dulu dari mereka) mengantre untuk menanamkan modalnya kepada perusahaan dengan “nama baik”. Sama dengan perusahaan tersebut, demikian juga jika kita hidup dengan nama baik, hanya masalah waktu saja,  Tuhan akan memberkati kita secara luar biasa. Setelah kita diberkati, tetaplah berfokus kepada “nama baik” karena prinsipnya tidak akan berubah.

Kekayaan itu berharga, tapi lebih berharga nama baik.

Dari tempat ngopi dan sarapan enak di sunter,

Cheers,

BinsarGideon

Advertisements
Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Menghentikan Terorisme

stop terrorism sign

Beberapa hari yang lalu Indonesia digemparkan oleh peristiwa terorisme yang terjadi secara beruntun dalam kurun waktu 5 hari. Dimulai dari keributan di penjara Mako Brimob sampai dengan Mapolda Riau (semoga menjadi yang terakhir). Ada belasan korban meninggal dunia dan puluhan luka-luka. Saya mengangkat topi dan memberikan rasa hormat saya untuk keluarga yang ditinggalkan yang tidak memantik sedikitpun api permusuhan.

Apa yang sedikit menggelitik saya adalah sikap dari begitu banyak orang yang berkata #kamitidaktakut, sikap ini menggema dimana-mana, dari mulai media cetak sampai media sosial. Kalau untuk saya pribadi, sejujurnya SAYA TAKUT. Akhir-akhir ini, ada perasaan was-was yang mengikuti setiap kali saya mengujungi pusat keramaian atau bahkan beribadah. Menurut saya itu adalah rasa takut yang wajar, Yesus saja ketika berhadapan dengan saat terakhirnya mengalami ketakutan yang luar biasa. Selama kita manusia, selama itu pula rasa takut itu masih ada. Akan tetapi, seperti kata pendeta yang kemarin saya dengar, takut itu wajar, yang menjadi tidak wajar adalah ketika kita dikuasai rasa ketakutan.

Teroris itu bukanlah masalah agama. Walaupun hari minggu kemarin ada beberapa gereja yang menjadi korban dan pelakunya adalah sesama anak bangsa kita yang beragama muslim, bukan berarti setiap saudara kita yang beragama muslim adalah teroris. Banyak juga saudara kita yang beragama muslim juga menjadi korban. Pikiran sederhananya adalah, kuda berkaki empat, tetapi tidak semua yang berkaki empat adalah kuda.

Menghadapi teror semacam ini, apa sih yang harus kita lakukan sebagai orang kristen? Berdoa? Membuat kebaktian? Membakar semangat sesama jemaat? Itu baik tapi saya rasa itu tidak akan menolong banyak.

Mari belajar dari kisah terorisme di Alkitab.

Ada satu terorisme yang dicatat di Alkitab, dan agama pelakunya bukan muslim melainkan yahudi. Nama sang pelaku adalah Saulus. Saulus adalah seorang teroris. Lebih gawatnya ia adalah teroris untuk orang kristen yang didukung penuh oleh negaranya. Jika terorisme sekarang dihentikan oleh negara, saat itu didukung oleh negara.

Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel………Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.(Kis 9:13-19 TB, pemotongan dan penekanan oleh saya)

Bagaimana Tuhan mengentikan Saulus dan merubahnya menjadi Paulus?

Seperti yang kita semua tahu, Tuhan menghentikan Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik secara supranatural lewat cahaya yang tiba-tiba menyinari Paulus. Apakah Tuhan berhenti disitu? Tidak! Tuhan mengutus Ananias dan murid-murid yang lain untuk “menjangkau” Paulus. Tuhan tidak sekedar melakukan yang supranatural, Tuhan menggunakan yang natural.

Siapapun orang yang berada disekitar kita bisa saja menjadi teroris berikutnya jika kita kalah cepat dari ideologi terorisme menjangkau mereka. Orang Kristen seringkali lupa bahwa ada banyak “saulus” disekitar mereka yang bukan untuk ditakuti apalagi dibenci melainkan untuk dijangkau. Seringkali kita takut untuk menjangkau karena alasan-alasan yang berfokus kepada kepentingan diri sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan juga mau menggunakan kita sebagai alatNya dalam MERUBAH terorisme. Mengapa kita tidak mulai menggaungkan #kamitidaktakut ketika kita mau memberitakan Injil? Bukankah hasilnya akan jauh lebih baik dan kita bisa menjadi “Ananias” yang akan menjadi alat Tuhan dalam melahirkan “Paulus-Paulus” baru di bangsa kita.

Tugas pemerintah adalah menghentikan terorisme, tugas kita adalah menjangkau teroris, bahkan sebelum ia menjadi teroris, bahkan sebelum ia berpikir menjadi teroris.

#Kamitidaktakutmemberitakaninjil

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Infinity War

Infinity War.jpg

Besok adalah hari perdana penanyangan film AVENGERS-INFINITY WAR. Ratusan juta manusia di berbagai penjuru dunia ini sudah tidak sabar untuk menyaksikan film ini dan mungkin anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang sudah mempunyai tiket film ini di tangan. Luar biasa memang melihat histeria yang diciptakan oleh Marvel Cinematic Universe lewat film ini. Menurut saya, sepanjangan hidup saya yang belum terlalu panjang ini, belum pernah saya merasa atau tahu ada film yang begitu ditunggu-tunggu segila’ film yang besok tayang ini.

Sebagai penggemar film kelas cere yang gak naik kelas berapa kali alias gak gemar-gemar banget. Saya menjadi penasaran untuk menonton trailer, memes, parodi, react video, sampe analisa akan jalur film ini. Rasa penasaran saya berujung pada video situasi  jumpa pers yang dilakukan oleh beberapa aktor dari film ini di Marina Bay Sands Singapore. Video tersebut diunggah oleh seorang yang begitu mengidolai Robert Downey Junior (RDJ) dan memiliki kesempatan untuk melihat RDJ melewati red carpet dengan harapan RDJ akan mendatanginya. Akhir ceritanya adalah orang tersebut berhasil melihat RDJ dari dekat tetapi tidak berhasil bercengkrama dengan RDJ. Hanya melihat sekilas saja.

Bayangkan ada manusia yang mengkategorikan diri fans berat dan  rela menghabiskan waktu dan hartanya demi bisa melihat aktor pujaan hatinya. Dan ketika saat itu tiba, si fans berat tersebut berteriak-teriak untuk mendaptkan perhatian sang aktor tetapi si aktor bahkan tidak sedetikpun melihatnya dan terus berjalan maju meninggalkan kerumunan fans yang mengilainya. Menariknya adalah, fans tersebut begitu sukacita karena bisa melihat sang aktor, bahkan tidak ada rasa penyesalan atau kekecewaan. Asal bisa memandang dari dekat saja sudah bahagia.

Saya tidak sedang mendiskreditkan RDJ, saya sangat kagum dengan kemampuan aktingnya, bahkan saya juga tidak menolak jika punya kesempatan untuk ngobrol atau bahkan sekedar foto bareng. Akan tetapi, entah kenapa ketika saya menonton kegilaan-kegilaan fans akan seorang aktor yang juga manusia, saya teringat dengan pribadi Allah yang adalah pencemburu.

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (Kel 20:5 TB, penekanan oleh saya)

Dimana letak kecemburuan Tuhan? Seringkali secara tidak sadar, kita tidak begitu semangat bertemu dengan Tuhan. Kita biasa saja. Tidak ada rasa haus atau lapar akan keinginan untuk bisa bercengkrama dengan Dia yang adalah penulis cerita dari hidup kita. Lain dengan aktor-aktor dunia yang begitu terkenal tetapi sulit punya waktu untuk penggemarnya. Tuhan punya 24 jam sehari untuk kita, tetapi kita yang seringkali tidak punya waktu untuk Tuhan. Kita lupa, untuk kita bisa berjumpa dengan Tuhan secara pribadi, Tuhan mati untuk setiap kita. Jangan lupa bahwa Infinity War yang sesungguhnya adalah peperangan antara kita dengan dosa yang juga sudah dimenangkan oleh Tuhan di kayu salib untuk kita semua.

Kapan terakhir kali kita begitu bergairah untuk bertemu Tuhan dalam doa dan renungan pribadi kita? Mari kembali bergairah.

Dari kamar yang dingin sambil menunggu martabak malam,

PS : Selamat menontonnn untuk yang besok udah punya tiket. Ajak-ajak dong.

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Zuckerberg

Zuckerberg.jpg

Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” (Kej 28:15 TB, penekanan oleh saya)

Kalau ada orang yang saat ini sedang mendapat sorotan kurang baik di dunia adalah Mark Zuckerberg. Just in case, kalau kalian tidak tau siapa Zuckerberg, dia adalah pemilik situs jejaring terbesar di dunia dengan lebih dari 2 Milyar pengguna yang bernama Facebook. Melalui facebook, dia membeli whatsapp dan juga instagram. Saya yakin, tiga aplikasi tersebut ada di hampir seluruh ponsel pintar yang ada di dunia, termasuk ponsel kita. Namun, pemuda super kaya (hartanya ratusan trilliun) yang menjadi panutan begitu banyak manusia di jagat raya sedang mengalami pukulan telak dalam hidupnya. Dia tidak menipu atau melakukan kejahatan melainkan ‘hanya’ melakukan sedikit keteledoran yang mengakibatkan bocornya data pribadi lebih dari 80 juta pengguna facebook (1 juta diantaranya adalah data orang Indonesia). Menurut berita yang saya baca, data-data tersebut digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencapai kepentingan pribadi mereka. Kesalahan ini memiliki dampak begitu besar, sehingga beberapa eksekutif perusahaan-perusahaan teknologi dunia mengomentari dengan sinis dan bahkan menghapus akun milik mereka di situs facebook. Zuckerberg menerima desakan dari begitu banyak pihak untuk mundur dari posisinya sebagai CEO facebook. Gambar diatas adalah cuplikan berita yang menunjukkan bahwa pemuda yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia pada saat ini bahkan harus ‘memelas’ untuk menjaga posisinya sebagai pemimpin tertinggi di facebook.

Semua ini menjadi menarik karena baru beberapa bulan lalu Zuckerberg menarik perhatian dunia ketika ia, diusianya yang begitu muda, memutuskan untuk mengelilingi Amerika dan membagikan hal-hal positif ke setiap tempat yang kunjungi. Tindakannya ini mendapat sambutan luar biasa hangat dan makin melambungkan namanya. Banyak orang berpendapat bahwa kegiatannya adalah langkah awal untuk dia maju sebagai presiden Amerika walaupun anggapan ini berkali-kali dibantah olehnya.

Bayangkan, dari seorang pemuda super kaya yang terkenal akan kesederhanaanya dan dipuja oleh milyaran manusia di dunia, berubah menjadi seorang pemuda yang mengalami tekanan hebat dan memasuki periode yang begitu sulit dalam kehidupannya hanya dalam waktu yang singkat. Saya tidak bisa membayangkan rasa frustrasi yang mungkin sedang dialami oleh Mark Zuckerberg. Saya berdoa dia dapat keluar dari masalahnya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Sebuah pelajaran klasik yang namanya ketidakpastian hidup. Satu hal yang pasti tentang hidup adalah ketidakpastian. Bayangkan cuma butuh waktu yang singkat untuk orang dari begitu kaya dan populer menjadi orang yang frustrasi akan apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Uang begitu banyak yang dia miliki ternyata tidak bisa menolong dia, seandainya bisa, sudah pasti dia tidak mengalami masalah. Seluruh hal didalam hidup kita, cepat atau lambat, siap atau tidak, akan meninggalkan kita atau kita tinggalkan. Nyawa, uang, kesehatan, nama besar, prestasi, harta, keluarga, dan teman pasti akan berpisah dengan kita. Jangan menyalahkan mereka karena mereka sama seperti kita, sifatnya sementara. Masalahnya seringkali kita secara tidak sadar berpegang pada sesuatu yang sifatnya sementara.

Satu-satunya hal didalam hidup kita yang tidak akan pernah meninggalkan kita adalah Allah. Ayat diatas adalah sebuah janji dari Allah bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Didalam masa sukacita ataupun masa sulit, ketauhuilah bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Berpeganglah kepadaNya bukan kepada yang lain dan bersyukurlah bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Dari dalam terminal rawamangun sambil menunggu polisi untuk membuat surat kehilangan.

Cheers,

 

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Paspor

Paspor

Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Kor 4:10 TB, penekanan oleh saya)

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan berkat untuk bisa menikmati perjalanan menggunakan cruise selama 5 hari. Selain mendapatkan cruise, kami juga mendapat fasilitas untuk menginap di hotel berbintang 5 di Singapura selama 3 hari 2 malam. Perjalanan tersebut dipersiapkan begitu mewah karena diberikan oleh kantor kepada partner-partner yang sudah bekerja keras selama tahun 2017 untuk mencapai target yang diberikan diawal tahun. Ada lebih dari 1000 peserta yang akan berangkat dari seluruh penjuru Indonesia. Bayangkan, sudah mewah, bersama teman-teman lagi. Luar biasa berkat yang Tuhan curahkan.

Cruise yang akan kami nikmati berangkat dari singapura, sehingga kami semua harus terbang ke singapura terlebih dahulu untuk bisa naik ke cruise tersebut. Ribuan peserta dibagi dalam puluhan kelompok dan beberapa penerbangan. Saya ingat waktu kumpul saya di bandara adalah pukul 04.00 pagi. Subuh itu, terminal tempat dimana kami berkumpul penuh dengan para juara yang telah bekerja keras selama tahun 2017. Walaupun kebanyakan dari kami menampilkan wajah ngantuk, tetapi keceriaan tetaplah terpancar. Kami semua bersukacita. Sampai…

Sampai…

Kami mendengar seorang teman kami lupa membawa hal paling penting untuk setiap perjalanan yaitu Paspor. Teman kami KETINGGALAN PASPOR. Hal menjadi semakin rumit karena, PASPORnya ketinggalan dirumahnya. Rumahnya di kota yang berjarak ratusan kilometer dari Jakarta, alias kota lain. Tidak cukup waktu untuk terbang balik ke kotanya mengambil paspor lalu terbang balik ke Jakarta. Atau kalaupun dia memilih terbang ke kotanya dan mengambil paspornya lalu segera terbang ke singapura, tetap tidak akan berguna karena kami semua pasti semua sudah ada ditengah laut menikmati kemewahan dan kenikmatan perjalanan dari cruise kami.

Paspor itu hanya buku yang kelihatannya kecil dan seolah-olah tidak berguna. Akan tetapi, tidak perduli kerja keras kita selama 2017, ketika kita lupa membawa buku tersebut maka kita tidak akan pernah bisa menikmati apa yang seharusnya menjadi milik kita.

Kita baru saja merayakan Paskah. Sebuah perayaan akan kematian dan kebangkitan Kristus. Kalau ada event yang paling menentukan untuk orang Kristen, maka event itu adalah paskah. Jika Kristus tidak pernah mati dan dibangkitkan maka sia-sialah seluruh usaha kita untuk mendapatkan keselamatan atau bahkan untuk menjalani kehidupan kita di dunia yang jahat ini.  Untungnya, Kristus mati dan bangkit untuk kita semua, sehingga kita memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani kehidupan kita baik sekarang ketika kita masih di dunia atau nanti di kehidupan yang kekal.

Ayat diawal dari tulisan ini menegaskan bahwa Paulus tidak pernah lupa untuk mebawa kematian Kristus disetiap saat dalam kehidupannya. Hal yang sama haruslah juga menjadi kewajiban kita. Membawa kematian Kristus adalah sebuah kewajiban. Kematian Kristus adalah paspor untuk kita menikmati setiap hal yang Tuhan sudah lakukan atau berikan kepada kita. Sebaliknya, sehebat apapun kita jika kita lupa bahwa Kristus sudah mati dalam hidup kita, maka hanya masalah waktu kita akan stuck dan mulai mengeluh akan kehidupan yang kita jalani.

Paskah mengingatkan kita bahwa Kristus sudah mati dan bangkit untuk kita. Jika kita terus membawa spirit paskah ini didalam setiap aspek kehidupan kita maka kita akan menjadi orang-orang yang bisa terus-menerus berjalan dengan kuat didalam Tuhan. Ketika ada masalah ataupun tantangan (saya tidak bilang itu mudah), ingat bawa Kristus sudah mati untuk kita. Hadapi setiap persoalan dengan suatu pengertian bahwa Kristus sudah mati untuk kita. Jika masalah utama kita (dosa) sudah diselesaikan dengan kematianNya di kayu salib, apalagi masalah yang ada sementara kita ada di dunia. Dia pasti memberi jalan keluar.

KematianNya memampukan kita untuk bisa menjalani perjalanan sementara kita di dunia dan menikmati perjalanan kita di kekekalan bersama-sama dengan Dia. Jangan pernah lupa akan kematian dan kebangkitanNya karena itu adalah paspor perjalanan kita.

Jangan lupa bawa paspor.

Dari kamar yang hening,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Milik

calla-lily-plant-05312016

Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju. (Kid 7:10 TB, penekanan oleh saya)

Tanpa terasa kita semua sudah berada di penghujung Februari. Bagaimana perjalanan anda di 2018 ini? Untuk saya pribadi, 2018 terasa berat dan lambat terutama dalam area bisnis. Jika dibandingkan dengan pencapaian saya di dua bulan pertama di 2017, maka 2018 terasa sangat menurun. Semua begitu mendebarkan karena begitu banyak kewajiban keuangan bulanan yang harus diselesaikan, belum lagi ditambah kewajiban-kewajiban baru yang muncul di 2018. Menegangkan sekaligus mendebarkan sekaligus mengkhawatirkan.

Akan tetapi di bulan yang penuh dengan cinta ini, saya baru saja mempelajari ayat yang saya tulis diatas. Ayat itu adalah penggalan dari syair yang ditulis oleh raja Salomo yang sebetulnya menggambarkan akan hubungan Kristus dengan kita sebagai gerejaNya. Ayat tersebut mengatakan bahwa kita ini adalah milik kepunyaan Tuhan.

Sekali lagi saya tuliskan, kita ini adalah milik kepunyaan Tuhan.

Tunggu sebentar, bukankah semuanya yang ada di bumi ini adalah milik kepunyaan Tuhan? Apa yang membedakan kita? Apa yang membuat kita menjadi begitu spesial? Jawabannya sederhana sekali, kita ini adalah satu-satunya milik kepunyaan Tuhan yang Dia beli, dan Dia beli dengan harganya sendiri. Alkitab pernah menulis:

Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. (Luk 12:26-27 TB, penekanan oleh saya)

Bukankah bunga yang tidak Ia beli, melainkan dengan begitu mudahnya Ia ciptakan tetap Ia pelihara? Jika yang remeh seperti bunga saja Ia pelihara, apalagi kita yang Ia  harus bayar begitu mahal, bahkan begitu mahal sehingga Ia harus mati untuk kita semua.

Saya adalah tipe orang yang lumayan apik dalam memelihara barang, dan kadar kepedulian saya terhadap barang tersebut bergantung pada bagaimana saya mendapatkan barang tersebut, semakin susah/mahal harga yang saya harus bayar maka semakin besar pula tingkat pemeliharaan saya terhadap barang tersebut. Saya saja yang tidak sempurna seperti itu, apalagi Tuhan semesta alam.

Seringkali kekuatiran kita muncul karena kita lupa identitas kita, kita lupa bahwa kita ini milik Tuhan. Kita lupa bahwa kita adalah milikNya dan dibeli dengan sangat mahal dan iblis menari diatas kekuatiran kita. Perlahan tapi pasti, jika kita tidak segera kembali, maka kekuatiran kita akan menutup pengharapan kita.

Jika hari ini anda sedang kuatir, di akhir dari bulan yang penuh cinta saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda adalah milik Tuhan, milik kesayanganNya.

Abis makan ayam bumbu rempah sambil menatap masa depan dengan optimis,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Charity Barnum

330024

Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN. (Amsal 18:22, TB)

“Jatuh bangunnya sebuah organisasi ditentukan oleh seorang pemimpin” – John C Maxwell
“Jatuh bangunnya sebuah organisasi ‘sedikit banyak’ ditentukan oleh istri seorang pemimpin” – John B Gideon

Saya ingin menulis sesuatu terkait dengan film yang saya tonton sebanyak dua kali di bioskop. Filmnya berjudul The Greatest Showman. Saya sangat menikmati film tersebut dari segala sudut, baik dari alur cerita, musik, sinematografi, akting, dan lain-lain. Film tersebut mengisahkan tentang seorang yang bernama PJ Barnum, yang dikenal sebagai perintis pertunjukan sirkus diseluruh dunia. PJ Barnum adalah seorang anak miskin yang sangat ambisius dalam mencapai setiap impiannya. Dari mulai wanita impiannya, karir impiannya, pegawai impiannya,  rumah impiannya, sampai bisnis impiannya. Well, saya tidak sempat mengcrosscheck apakah film tersebut sesuai dengan cerita aslinya, tetapi sesungguhnya cerita dari film tersebut banyak mengajarkan kita untuk tetap maju, sesulit apapun tantangan yang ada didepan.

Akan tetapi, sepanjang film tersebut, fokus saya bukanlah kepada cerita hidup dari PJ Barnum, melainkan istrinya, yang bernama Charity Barnum. Charity Barnum tadinya adalah seorang anak dari keluarga kaya dan terhormat tempat dimana ayah dari PJ Barnum bekerja. Charity meninggalkan semuanya demi menikah dengan PJ Barnum dan hidup dalam kondisi yang berbalik 180 derajat dengan kehidupannya dimasa kecil. Singkat cerita, akhirnya PJ Barnum berubah menjadi orang kaya, sukses, dan terkenal diseluruh Amerika dan Eropa dan Charity-pun hidup dalam kemewahan, bahkan lebih daripada yang ia rasakan sewaktu ia masih kecil. Ditengah kekayaan yang begitu luar biasa, PJ Barnum berubah, ia melupakan keluarga dan teman-temannya demi ambisinya, sementara Charity Barnum tidak berubah. Ia tetap sederhana, menjaga keluarga, mendukung, menghargai, dan menopang suaminya dengan luar biasa. Charity tetaplah Charity yang sama ketika kaya lalu jatuh miskin dan bangkit menjadi kaya kembali. Keputusan yang paling tepat dalam hidup PJ Barnum adalah memilih Charity sebagai istrinya.

Saya mencoba membayangkan apakah yang akan terjadi jika PJ Barnum menikahi wanita selain Charity, mungkin hidupnya akan menjadi cerita tentang seorang pria yang malang. Seringkali saya melihat seorang pria yang biasa saja tetapi mendapat support, penghormatan, dan penghargaan yang luar biasa dari istrinya bisa berubah menjadi pemimpin yang luar biasa. Sebaliknya, saya sedih jika melihat pria yang penuh potensi yang hidup jauh atau bahkan kehilangan potensinya karena istrinya menganggapnya remeh dan tidak menghormatinya. Saya juga mencoba membayangkan apa yang terjadi jika Charity berubah menjadi wanita sombong ketika suaminya berubah menjadi orang kaya dan terkenal, tentu PJ Barnum akan tetap menjadi manusia yang tetap angkuh dan sombong, beruntung ketika PJ Barnum sadar akan kesombongannya, Charity tetap ada disisinya dengan kerendahan hati.

Di hari yang penuh kasih sayang ini, marilah kita menjadi pasangan yang membangun bukan meruntuhkan, menjaga bukan mengekang pasangan yang Tuhan percayakan kepada kita. Bukan hanya sekedar untuk pasangan (secara masih banyak yang single) tetapi juga untuk semua orang. Marilah belajar dari pribadi Charity Barnum di film The Greatest Showman. Seorang pribadi yang walaupun kaya tetap menjaga kesederhanaan dan memiliki nilai-nilai yang membangun, menjaga, dan selalu mengasihi orang lain.

Selamat hari kasih sayang.

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Belenggu

article-1209405-0630369A000005DC-889_634x347

Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu. (Kolose 4:18 TB, penekanan oleh saya)

Bacaan saya dalam minggu ini adalah surat dari Paulus kepada jemaat di Kolose. Jemaat di Kolose adalah jemaat yang hidup berteumbuh, berbuah, dan memberikan kabar gembira dalam hal pertumbuhan iman kepada rasul Paulus yang saat itu sedang dalam penjara. Terhadap jemaat model seperti ini, Paulus tidak menulis surat penuh dengan pujian, melainkan surat yang mengingatkan kembali bagaimana seharusnya mereka sebagai orang kristen yang percaya akan kematian Yesus, hidup. Surat ini (jika saya boleh meringkasnya secara pribadi) berisikan permintaan dari Paulus kepada mereka untuk hidup secara SERIUS dalam kekristenan mereka. Paulus ingin memastikan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus terlihat nyata dalam kehidupan mereka. Surat ini juga berlaku untuk kita sebagai orang kristen yang bertumbuh dan berbuah.

Ayat terakhir dari surat ini menjadi menarik untuk saya pribadi karena Paulus mencoba mengingatkan mereka yang membaca suratnya bahwa ia sedang terbelenggu di penjara karena Kristus. Tentu mereka semua tahu bahwa Paulus sedang di penjara, tetapi Paulus menegaskan kembali akan belenggu yang sedang mengikatnya. Paulus mencoba mengirim pesan bahwa kehidupan setelah menerima Kristus bukanlah hidup yang mudah. Bukan saja tidak mudah, melainkan penuh tantangan. Sesuatu yang penuh dengan tantangan membutuhkan keseriusan.

Seringkali secara tidak sadar kita berpikir kekristenan adalah shortcut untuk semua masalah kita. Jika itu benar, maka murid-murid Yesus seharusnya mati dalam damai, akan tetapi ceritanya berbeda, mereka semua mati menggenaskan. Jika kita berpikir kekristenan hanya sekedar shortcut, maka kekristenan kita akan berakhir ketika masalah selesai dan dimulai kembali ketika masalah baru muncul. Kekristenan kita tidak berpusat kepada Kristus melainkan kepada masalah.

Ada banyak orang kristen yang secara tidak sadar menilai kematian Yesus adalah suatu hal yang biasa saja. Sesuatu yang mereka percayai tetapi tidak mereka seriusi. Memang kita berkata dengan mulut kita bahwa kita percaya, tetapi tindakan kita tidak menunujukkan bahwa kita percaya. Pilihan-pilihan kita dalam hidup menunjukkan hal yang merupakan kebalikan dari apa yang mulut kita kata katakan. Saya berdoa kita bukan seperti itu, jika ya, ayo kembali dan bertobat.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita serius terhadap kehidupan kekristenan kita? Jawabannya sederhana, silakan membaca dan merenungkan surat kolose. Saya tidak sedang berusaha untuk menakuti-nakuti kita semua, melainkan saya ingin kita semua melihat kematian Yesus di kayu salib adalah sebuah karya yang luar biasa. Kita harus sadar bahwa cara kita hidup bukanlah cara hidup yang sembarangan melainkan sebuah kehidupan yang berpusat kepadaNya. Coba renungkan sejenenak dan lihat bagaimana kita menghabiskan bulan Januari yang baru saja kita lewati, apakah kita serius menjalaninya?

Jika Tuhan saja serius akan kehidupan kita sehingga Ia mati untuk kita, maka sudah seharusnya kita memandang serius kehidupan kita.

Sambil menunggu bihun goreng favorit (bihun goreng solaria) yang disajikan dengan cabe rawit iris dan kecap asin,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Cerita 2017

images

Dalam beberapa jam lagi kita akan meninggalkan 2017 dan memasuki 2018. Untuk saya 2017 adalah tahun dimana Tuhan memberkati saya berlimpah-limpah di segala area. Tentunya kadar kelimpahan yang saya maksudkan bukanlah kelimpahan dalam khayalan yang dunia tawarkan melaikan kelimpahan sesuai dengan kuasa yang Ia berikan didalam hidup kita. Saya merasa kemurahan Tuhan yang benar-benar tercurah secara luar biasa, sehingga tidak ada (dan tidak akan pernah ada) kata yang bisa menggambarkan kebaikanNya dalam hidup saya. Saya mencoba menuliskan “update” tentang area-are didalam hidup saya bukan untuk sekedar memberitahukan apa yang terjadi, melainkan untuk mengingat betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan saya. As you keep on reading my post, i pray that His mercy and goodnes will be poured out upon you.

Hubungan Pribadi dengan Tuhan

Saya memulai 2017 dengan suatu kegairahan yang luar biasa dengan Tuhan, saya begitu semangat saat teduh dan membaca Alkitab dan terus berkomunikasi dengan Tuhan didalam segala hal. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya merasa hubungan saya kendor dengan Tuhan, sepertinya begitu banyak hal yang menarik saya menjauh dari keintiman saya pribadi dengan Tuhan. Kesibukan pekerjaan, pelayanan, sosial media, dan hal-hal lainnya saya ijinkan untuk menguasai saya dan membuat saya secara perlahan kehilangan api saya terhadap Tuhan. Saya berkali-kali merasa kosong, dan saya sadar betul bahwa Tuhan adalah satu-satunya Pribadi yang bisa memuaskan kekosongan saya tetapi di saat yang sama saya malas saat teduh, malas membaca alkitab, atau membaca tetapi hanya sekedarnya saja. Namun, Tuhan itu tetap Tuhan yang setia. Saya selalu merasa Dia adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti memanggil saya untuk bisa kembali bersekutu denganNya. Saya bersyukur untuk kegigihan Tuhan dalam “mencari” saya dan saya kembali bisa menikmati hubungan pribadi denganNya di setiap saat didalam kehidupan saya. Tuhan baik.

Keluarga

Di keluarga saya, saya adalah anak laki-laki tertua. Kami 6 bersaudara, 3 anak perempuan, dan 3 anak laki-laki. Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Australia bersama dengan 2 orang saudara laki-laki saya dan orang tua saya. Saya menemani mereka pergi ke Hillsong Conference dan juga mendapat kesempatan untuk menemani orang tua saya menikmati Australia. Sebuah perjalanan yang sangat mendadak tetapi sangat menyenangkan. Saya ingat kami menikmati makan malam yang lumayan mewah di sebuah kapal. Sebenarnya itu bukanlah kapal yang harusnya kami naiki (kami ketinggalan kapal yang kami sudah pesan dari jakarta) dan supaya orang tua tidak marah-marah, mau tidak mau saya dan 2 adik saya secara diam-diam harus nombok untuk naik ke kapal yang lain yang ternyata jauh lebih mewah. Tetapi menikmati steak dan wine bersama keluarga di Darling Harbour adalah sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Saya juga melihat hubungan kami bersaudara yang semakin baik dan semakin dipulihkan. Saya melihat Tuhan juga memberkati saudara-saudara saya secara luar biasa dan melihat Tuhan memberkati saudara-saudara saya adalah sebuah berkat tersendiri untuk saya. Tuhan Baik.

Pelayanan

Tahun ini Tuhan membawa saya naik begitu rupa didalam dunia pelayanan. Saya mendapatkan kesempatan untuk pergi misi ke Makassar bersama dengan beberapa orang teman dan Tuhan membuat kami mencapai hasil yang jauh melebihi apa yang kami rencanakan. Perjalanan ke Makassar adalah bukti bahwa ketika kita melangkah maka keajaiban mengikuti. Dalam waktu dekat saya akan kembali pergi Makassar untuk perjalanan beberapa hari dan mencoba untuk kembali menguatkan dan berbagi kepada pelayan-pelayan Tuhan yang saya kenal ketika saya pergi untuk ke misi kemarin.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk bisa melayani di Jogjakarta. Sebuah pelayanan yang benar-benar diluar batas kemampuan saya. Saya diminta untuk membagikan Firman di kebaktian minggu (untuk pertama kalinya saya berkhotbah di mimbar gereja dari keluarga besar Every Nation Indonesia) dan semua ini mungkin berkat kepercayaan dari gembala saya. Siapa saya untuk bisa membagikan Firman Tuhan ditengah kebaktian umum. Hal lain yang saya syukuri adalah ketika ada sebuah sesi untuk mahasiswa dimana saya bisa melayani di Jogja bersama dengan adik saya di Jogja, kami berbagi mimbar di Jogjakarta, saya melayani dalam bahasa Indonesia dan adik saya menterjemahkan kedalam bahasa inggris karena ada beberapa mahasiswa internasional yang hadir mengikuti sesi tersebut.

Hal yang paling saya syukuri dalam pelayanan di 2017 adalah MURID dan LIFEGROUP. 2017 adalah tahun dimana saya sadar betul bahwa bukan tentang seberapa banyak yang orang yang kita khobathi melainkan seberapa banyak yang saya muridkan dan apakah murid saya menjadikan murid juga. Banyak pelayanan yang berfokus kepada jumlah jemaat (crowd) yang besar dan itu tidak salah. Akan tetapi, Yesus yang adalah contoh dari bagaimana kita harus melayani, sibuk dengan muridnya tidak sibuk dengan kerumunan orang yang mengikutinya. Kalaupun kalau Ia menyentuh kerumunan, Ia sebetulnya sedang mengajarkan sesuatu kepada murid-muridNya. Mengkhotbahi hanya waktu 45 menit, memuridkan membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena ada hubungan yang dibangun. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk berkhotbah melainkan memuridkan. Jadikan khotbah kita adalah bagian dari pemuridan kita, jangan sibuk khotbah dan lupa unutk memuridkan. Saya bersyukur bahwa bersama-sama dengan beberapa orang, kami secara konsisten dan setia selama 2017 menjalankan Life Group. Kami berkumpul setiap 2 minggu dan saling membangun satu sama lain.

Saya bersyukur untuk mentor saya, John kullit, (sekali dalam setahun nama anda layak untuk masuk tulisan saya;sombong sekali), bagaimana kami bisa duduk dan menajamkan satu sama lain (saya jadi ingat duduk berdua dengannya di sebuah kafe di kota kasablanka sampai tutup dan saya memberikan masukan-masukan kepadanya; dan saya sangat menikmati waktu-waktu diskusi kami). Tuhan baik.

Bisnis

Hahahahahhahahaha. Saya ingat suatu peristiwa di Alkitab ketika Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan memiliki anak dan istrinya tertawa karena berpikir janji itu terlalu mustahil. Sebetulnya secara garis besar (menurut saya) ekonomi di 2017 berjalan begitu sulit, dan banyak bisnis yang tumbang menghadapi kerasnya persaingan. Saya sendiri bersyukur bahwa di Tahun 2017 saya mencapai MDRT saya yang pertama kami. Apa itu MDRT? MDRT itu adalah klub sales asuransi yang anggotanya adalah sales asuransi dari seluruh dunia yang mencapai target tertentu yang ditetapkan oleh organisasi MDRT. Buat saya pencapaian ini, terasa begitu spesial karena ini jauh melampaui impian terliar saya selama 10 tahun berkarir di asuransi dan ini terjadi ketika dimana bisnis sedang sulit dan sebetulnya secara waktu saya sangat-sangat sibuk karena harus mengurus berbagai macam hal. Saya ingin menuliskan bagaimana proses Tuhan membuat saya mencapai MDRT (karena sampai awal DESEMBER, target ini terlalu jauh untuk dikejar dan hampir mustahil untuk mendapatkannya) akan tetapi saya rasa terlalu panjang untuk menuliskannya. Kemaren teman saya berbicara kepada saya, “Lo harus bersyukur lo mencapai jauh dari apa yang lo capai di 2016 di saat semuanya sedang sulit” Saya bukan hanya bersyukur, saya sangat-sangat bersyukur. Tuhan baik.

Personal

Memulai Tuhan ini sebetulnya sangat berat. Sangat-sangat berat. Perpisahan yang terjadi di akhir 2016 membuat saya begitu berat menjalani hari-hari dalam kehidupan saya. Saya bersyukur untuk orang-orang yang berdiri, menopang, dan mendorong saya untuk maju. Begitu banyak hari-hari yang saya lewati dengan rasa frustrasi kehilangan, akan tetapi kekuatan demi kekuatan terus-menerus diberikan oleh Tuhan lewat orang-orang disekitar saya. Beberapa bulan yang lalu, gembala saya memanggil saya ke ruangannya secara mendadak, saat itu saya sangat bingung kenapa saya dipanggil dan mulai berpikir kesalahan apa yang sedang saya buat, tetapi ternyata bukan itu yang menjadi alasan saya dipanggil. Gembala saya menanyakan saya tentang kondisi kehidupan percintaan saya. Lucu memang, tetapi ada banyak nasihat yang membangun dan mebuat saya yakin untuk terus maju didalam panggilan Tuhan dan yakin bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik untuk saya. Dan sejujurnya, saya saat ini sedang mendoakan seseorang dan saya tidak tahu juga apakah dia atau bukan yang Tuhan akan sediakan untuk saya.

Satu lagi, dari highlight kehidupan pribadi saya di 2017 adalah SAYA BERHASIL MENYELESAIKAN HALF MARATHON (21 Km) untuk pertama kalinya pada event Jakarta Marathon. Cerita singkatnya seperti ini, pertengahan tahun 2017 saya berencana untuk hidup sehat dan komit kepada satu jenis olahraga. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk komit kepada olahraga lari. Hanya bermodalkan youtube dan informasi kanan dan kiri saya mulai berlari. Saya tidak bergabung dengan klub atau komunitas lari manapun, saya hanya mencoba berlari secara rutin setiap minggunya. Waktu berjalan dan saya menikmati olahraga lari yang saya lakukan. Singkat cerita, saya mendaftar event tahunan Jakarta Marathon 2017 untuk jarak 10 km saja, karena jarak tersebut adalah jarak terjauh yang saya bisa tempuh selama saya berlari. Cerita menjadi berubah total karena seorang teman yang mendaftar untuk jarak 21 km secara mendadak membatalkan keikutsertaanya dan memberikan slot 21 km miliknya untuk saya. Awalnya saya sempat ragu karena 2 hari menjelang lari saya masih berada di Malaysia untuk mengikuti konferensi. Akhirnya tibalah harinya dimana saya (sendirian, tanpa komunitas, tanpa kenalan) harus menghadapi Half Marathon saya. Saya start terlambat karena mendadak sakit perut dan antrian WC begitu panjang. Saya ingat, selama saya berlari entah berapa ribu orang dari jarak yang lebih rendah (karena mereka start belakangan) melewati saya, saya merasa ingin memuaskan ego saya dan mencoba lari untuk melewati orang-orang yang melewati saya tetapi saya terus berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya hanya perlu fokus untuk menyelesaikan perlombaan saya bukan kepada orang-orang yang berada di sekitar saya. Saya terus berlari dan tidak berhenti dan terus melawan pikiran saya yang berkata bahwa saya sudah cukup jauh (terutama setelah 10 km), dan ketika saya terus berlari sesuai dengan kecepatan dan irama lari yang saya nyaman, saya mulai melewati orang-orang yang start lebih dahulu daripada saya di kilomter ke 12, begitu banyak orang yang berjalan karena kelelahan Sedangkan saya terus belari dengan kecepatan yang nyaman sampai ke garis finish. Saya bersyukur bahwa saya ternyata bisa menyelesaikan apa yang menjadi perlombaan saya. Ada banyak pelajaran yang saya petik tentang kehidupan selama saya berlari, akan tetapi terlalu panjang untuk saya tuliskan semua. Tuhan baik.

Penutup

Walaupun tulisan diatas begitu panjang, ada banyak hal yang tidak bisa saya tuliskan pada tulisan saya kali ini. Ada banyak kegagalan selama 2017 dan ada juga banyak keberhasilan selama 2017 yang terjadi didalam hidup saya. Satu hal yang saya semakin pahami adalah hubungan dengan Tuhan itu tidak bisa tergantikan dan itu yang akan kita bawa sampai kekekalan. Tidak ada kepuasan yang dapat menggantikan kepuasan yang saya dapatkan didalam hubungan pribadi saya dengan Tuhan. Jika saya harus menukar seluruh pencapaian yang saya dapatkan selama 2017 dengan hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan, saya akan melakuakannya dengan sukacita. Semakin saya naik, semakin saya tahu bahwa Tuhan haruslah tetap menjadi yang terutama didalam hidup saya. Hidup bukan tentang apa yang terjadi dengan kita, bukan juga tentang sekadar bagaimana respons kita, tetapi tentang siapa yang bersama dengan kita ketika semua hal itu terjadi. Saya bersyukur untuk Tuhan yang selalu bersama-sama dengan saya. Sekali lagi, Tuhan baik.

2018, Bring it on.

Cheers,

Binsar Gideon

Posted in Kesaksian Saya | Tagged | Leave a comment

Bintang-Nya

wise_men_1

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:1-2 TB, penekanan oleh saya)

Tanpa terasa kita sudah memasuki akhir dari tahun 2017 yang juga berarti natal yang sudah didepan mata. Untuk saya pribadi, 2017 adalah tahun dimana saya akan menghadiri perayaan natal terbanyak. Natal dengan keluarga, gereja, teman pelayanan, sekolah, kantor, life group, dan masih banyak lagi. Mungkin ada sekitar 12 perayaan natal yang harus dihadiri selama Desember ini. Secara fisik memang sangat capek tapi begitulah Desember, selalu penuh dengan kemeriahan natal.

Akan teteapi, jikalau kita tidak hati-hati, maka sebetulnya natal bisa menjadi sekadar acara tahunan yang kita rayakan di akhir tahun. Padahal natal yang sesungguhnya adalah sebuah momen dimana Tuhan turun ke dunia dalam rupa manusia untuk bisa menebus dosa-dosa kita. Tuhan datang untuk memberi kegembiraan, bukan kegembiraan yang hanya terbatas akan berkat jasmani, melainkan kegembiraan karena Raja segala raja telah datang ke dunia dan melepaskan kita dari perbudakan dosa yang membelenggu kita.

Kemarin saya membaca kisah natal yang ditulis dalam Injil Matius dan ketika membacanya, ayat tersebut seperti keluar dan berbicara banyak kedalam hidup saya. Dalam kisah natal itu, diceritakan bahwa ada sekelompok orang majus yang melihat bintang-Nya dan mengikutinya sehingga bertemu dengan bayi Yesus di Betlehem. Setelah bertemu dengan bayi Yesus, mereka sujud menyembah dan mempersembahkan persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur. Mereka melihat bintang, tetapi mereka tahu bahwa bintang itu bukan untuk disembah. Mereka tahu bahwa Yesus saja yang layak disembah.

Dalam perjalanan kita bertemu dengan Tuhan pasti ada “bintang” yang menjadi penunjuk jalan. Buat sebagian dari kita bintang tersebut mungkin berkat, kesembuhan, keluarga, promosi atau sesuatu hal yang luar biasa. Buat sebagian yang lain, mungkin “bintang” tersebut berupa masalah, persoalan, sakit-penyakit, hutang, atau sesuatu hal yang menyakitkan. Apapun itu, kita tahu bahwa “bintang” tersebut menjadi petunjuk untuk kita sadar bahwa ada Pribadi yang Mahakuasa dan peduli akan hidup kita. Akan tetapi seringkali secara tidak sadar kita hanya berhenti sampai di bintang tersebut saja dan lupa bahwa “bintang” tersebut seharusnya membawa kita lebih dekat lagi kepada-Nya.

Saya berdoa bahwa natal ini adalah sebuah momen dimana kita sadar bahwa kita ada untuk menyembah Dia. Apapun yang terjadi dalam hidup kita (terutama tahun ini) baik itu senang maupun sulit, jadikan itu sebuah petunjuk untuk kita bisa bertemu dan menyembah Tuhan kita. Jangan berhenti sampai kepada pemberiannya saja, kejar Pribadi yang memberikannya. Orang-orang majus bisa saja berhenti di Istana Herodes dan menikmati apa yang indah-indah menurut dunia, tetapi mereka terus berjalan mencari bayi Yesus. Mereka harus meninggalkan istana megah dan memasuki kandang domba tetapi mereka tahu ada sukacita sejati ketika kita bisa bertemu dengan Raja segala raja dan sujud menyembah-Nya sambil mempersembahkan yang terbaik yang ada dalam hidup kita.

Selamat Natal semuanya 🙂

Sambil menunggu waktu makan Pokenbir untuk natal life-group,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment