Charity Barnum

330024

Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN. (Amsal 18:22, TB)

“Jatuh bangunnya sebuah organisasi ditentukan oleh seorang pemimpin” – John C Maxwell
“Jatuh bangunnya sebuah organisasi ‘sedikit banyak’ ditentukan oleh istri seorang pemimpin” – John B Gideon

Saya ingin menulis sesuatu terkait dengan film yang saya tonton sebanyak dua kali di bioskop. Filmnya berjudul The Greatest Showman. Saya sangat menikmati film tersebut dari segala sudut, baik dari alur cerita, musik, sinematografi, akting, dan lain-lain. Film tersebut mengisahkan tentang seorang yang bernama PJ Barnum, yang dikenal sebagai perintis pertunjukan sirkus diseluruh dunia. PJ Barnum adalah seorang anak miskin yang sangat ambisius dalam mencapai setiap impiannya. Dari mulai wanita impiannya, karir impiannya, pegawai impiannya,  rumah impiannya, sampai bisnis impiannya. Well, saya tidak sempat mengcrosscheck apakah film tersebut sesuai dengan cerita aslinya, tetapi sesungguhnya cerita dari film tersebut banyak mengajarkan kita untuk tetap maju, sesulit apapun tantangan yang ada didepan.

Akan tetapi, sepanjang film tersebut, fokus saya bukanlah kepada cerita hidup dari PJ Barnum, melainkan istrinya, yang bernama Charity Barnum. Charity Barnum tadinya adalah seorang anak dari keluarga kaya dan terhormat tempat dimana ayah dari PJ Barnum bekerja. Charity meninggalkan semuanya demi menikah dengan PJ Barnum dan hidup dalam kondisi yang berbalik 180 derajat dengan kehidupannya dimasa kecil. Singkat cerita, akhirnya PJ Barnum berubah menjadi orang kaya, sukses, dan terkenal diseluruh Amerika dan Eropa dan Charity-pun hidup dalam kemewahan, bahkan lebih daripada yang ia rasakan sewaktu ia masih kecil. Ditengah kekayaan yang begitu luar biasa, PJ Barnum berubah, ia melupakan keluarga dan teman-temannya demi ambisinya, sementara Charity Barnum tidak berubah. Ia tetap sederhana, menjaga keluarga, mendukung, menghargai, dan menopang suaminya dengan luar biasa. Charity tetaplah Charity yang sama ketika kaya lalu jatuh miskin dan bangkit menjadi kaya kembali. Keputusan yang paling tepat dalam hidup PJ Barnum adalah memilih Charity sebagai istrinya.

Saya mencoba membayangkan apakah yang akan terjadi jika PJ Barnum menikahi wanita selain Charity, mungkin hidupnya akan menjadi cerita tentang seorang pria yang malang. Seringkali saya melihat seorang pria yang biasa saja tetapi mendapat support, penghormatan, dan penghargaan yang luar biasa dari istrinya bisa berubah menjadi pemimpin yang luar biasa. Sebaliknya, saya sedih jika melihat pria yang penuh potensi yang hidup jauh atau bahkan kehilangan potensinya karena istrinya menganggapnya remeh dan tidak menghormatinya. Saya juga mencoba membayangkan apa yang terjadi jika Charity berubah menjadi wanita sombong ketika suaminya berubah menjadi orang kaya dan terkenal, tentu PJ Barnum akan tetap menjadi manusia yang tetap angkuh dan sombong, beruntung ketika PJ Barnum sadar akan kesombongannya, Charity tetap ada disisinya dengan kerendahan hati.

Di hari yang penuh kasih sayang ini, marilah kita menjadi pasangan yang membangun bukan meruntuhkan, menjaga bukan mengekang pasangan yang Tuhan percayakan kepada kita. Bukan hanya sekedar untuk pasangan (secara masih banyak yang single) tetapi juga untuk semua orang. Marilah belajar dari pribadi Charity Barnum di film The Greatest Showman. Seorang pribadi yang walaupun kaya tetap menjaga kesederhanaan dan memiliki nilai-nilai yang membangun, menjaga, dan selalu mengasihi orang lain.

Selamat hari kasih sayang.

Cheers,

Binsargideon

Advertisements
Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Belenggu

article-1209405-0630369A000005DC-889_634x347

Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu. (Kolose 4:18 TB, penekanan oleh saya)

Bacaan saya dalam minggu ini adalah surat dari Paulus kepada jemaat di Kolose. Jemaat di Kolose adalah jemaat yang hidup berteumbuh, berbuah, dan memberikan kabar gembira dalam hal pertumbuhan iman kepada rasul Paulus yang saat itu sedang dalam penjara. Terhadap jemaat model seperti ini, Paulus tidak menulis surat penuh dengan pujian, melainkan surat yang mengingatkan kembali bagaimana seharusnya mereka sebagai orang kristen yang percaya akan kematian Yesus, hidup. Surat ini (jika saya boleh meringkasnya secara pribadi) berisikan permintaan dari Paulus kepada mereka untuk hidup secara SERIUS dalam kekristenan mereka. Paulus ingin memastikan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus terlihat nyata dalam kehidupan mereka. Surat ini juga berlaku untuk kita sebagai orang kristen yang bertumbuh dan berbuah.

Ayat terakhir dari surat ini menjadi menarik untuk saya pribadi karena Paulus mencoba mengingatkan mereka yang membaca suratnya bahwa ia sedang terbelenggu di penjara karena Kristus. Tentu mereka semua tahu bahwa Paulus sedang di penjara, tetapi Paulus menegaskan kembali akan belenggu yang sedang mengikatnya. Paulus mencoba mengirim pesan bahwa kehidupan setelah menerima Kristus bukanlah hidup yang mudah. Bukan saja tidak mudah, melainkan penuh tantangan. Sesuatu yang penuh dengan tantangan membutuhkan keseriusan.

Seringkali secara tidak sadar kita berpikir kekristenan adalah shortcut untuk semua masalah kita. Jika itu benar, maka murid-murid Yesus seharusnya mati dalam damai, akan tetapi ceritanya berbeda, mereka semua mati menggenaskan. Jika kita berpikir kekristenan hanya sekedar shortcut, maka kekristenan kita akan berakhir ketika masalah selesai dan dimulai kembali ketika masalah baru muncul. Kekristenan kita tidak berpusat kepada Kristus melainkan kepada masalah.

Ada banyak orang kristen yang secara tidak sadar menilai kematian Yesus adalah suatu hal yang biasa saja. Sesuatu yang mereka percayai tetapi tidak mereka seriusi. Memang kita berkata dengan mulut kita bahwa kita percaya, tetapi tindakan kita tidak menunujukkan bahwa kita percaya. Pilihan-pilihan kita dalam hidup menunjukkan hal yang merupakan kebalikan dari apa yang mulut kita kata katakan. Saya berdoa kita bukan seperti itu, jika ya, ayo kembali dan bertobat.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita serius terhadap kehidupan kekristenan kita? Jawabannya sederhana, silakan membaca dan merenungkan surat kolose. Saya tidak sedang berusaha untuk menakuti-nakuti kita semua, melainkan saya ingin kita semua melihat kematian Yesus di kayu salib adalah sebuah karya yang luar biasa. Kita harus sadar bahwa cara kita hidup bukanlah cara hidup yang sembarangan melainkan sebuah kehidupan yang berpusat kepadaNya. Coba renungkan sejenenak dan lihat bagaimana kita menghabiskan bulan Januari yang baru saja kita lewati, apakah kita serius menjalaninya?

Jika Tuhan saja serius akan kehidupan kita sehingga Ia mati untuk kita, maka sudah seharusnya kita memandang serius kehidupan kita.

Sambil menunggu bihun goreng favorit (bihun goreng solaria) yang disajikan dengan cabe rawit iris dan kecap asin,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Cerita 2017

images

Dalam beberapa jam lagi kita akan meninggalkan 2017 dan memasuki 2018. Untuk saya 2017 adalah tahun dimana Tuhan memberkati saya berlimpah-limpah di segala area. Tentunya kadar kelimpahan yang saya maksudkan bukanlah kelimpahan dalam khayalan yang dunia tawarkan melaikan kelimpahan sesuai dengan kuasa yang Ia berikan didalam hidup kita. Saya merasa kemurahan Tuhan yang benar-benar tercurah secara luar biasa, sehingga tidak ada (dan tidak akan pernah ada) kata yang bisa menggambarkan kebaikanNya dalam hidup saya. Saya mencoba menuliskan “update” tentang area-are didalam hidup saya bukan untuk sekedar memberitahukan apa yang terjadi, melainkan untuk mengingat betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan saya. As you keep on reading my post, i pray that His mercy and goodnes will be poured out upon you.

Hubungan Pribadi dengan Tuhan

Saya memulai 2017 dengan suatu kegairahan yang luar biasa dengan Tuhan, saya begitu semangat saat teduh dan membaca Alkitab dan terus berkomunikasi dengan Tuhan didalam segala hal. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya merasa hubungan saya kendor dengan Tuhan, sepertinya begitu banyak hal yang menarik saya menjauh dari keintiman saya pribadi dengan Tuhan. Kesibukan pekerjaan, pelayanan, sosial media, dan hal-hal lainnya saya ijinkan untuk menguasai saya dan membuat saya secara perlahan kehilangan api saya terhadap Tuhan. Saya berkali-kali merasa kosong, dan saya sadar betul bahwa Tuhan adalah satu-satunya Pribadi yang bisa memuaskan kekosongan saya tetapi di saat yang sama saya malas saat teduh, malas membaca alkitab, atau membaca tetapi hanya sekedarnya saja. Namun, Tuhan itu tetap Tuhan yang setia. Saya selalu merasa Dia adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti memanggil saya untuk bisa kembali bersekutu denganNya. Saya bersyukur untuk kegigihan Tuhan dalam “mencari” saya dan saya kembali bisa menikmati hubungan pribadi denganNya di setiap saat didalam kehidupan saya. Tuhan baik.

Keluarga

Di keluarga saya, saya adalah anak laki-laki tertua. Kami 6 bersaudara, 3 anak perempuan, dan 3 anak laki-laki. Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Australia bersama dengan 2 orang saudara laki-laki saya dan orang tua saya. Saya menemani mereka pergi ke Hillsong Conference dan juga mendapat kesempatan untuk menemani orang tua saya menikmati Australia. Sebuah perjalanan yang sangat mendadak tetapi sangat menyenangkan. Saya ingat kami menikmati makan malam yang lumayan mewah di sebuah kapal. Sebenarnya itu bukanlah kapal yang harusnya kami naiki (kami ketinggalan kapal yang kami sudah pesan dari jakarta) dan supaya orang tua tidak marah-marah, mau tidak mau saya dan 2 adik saya secara diam-diam harus nombok untuk naik ke kapal yang lain yang ternyata jauh lebih mewah. Tetapi menikmati steak dan wine bersama keluarga di Darling Harbour adalah sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Saya juga melihat hubungan kami bersaudara yang semakin baik dan semakin dipulihkan. Saya melihat Tuhan juga memberkati saudara-saudara saya secara luar biasa dan melihat Tuhan memberkati saudara-saudara saya adalah sebuah berkat tersendiri untuk saya. Tuhan Baik.

Pelayanan

Tahun ini Tuhan membawa saya naik begitu rupa didalam dunia pelayanan. Saya mendapatkan kesempatan untuk pergi misi ke Makassar bersama dengan beberapa orang teman dan Tuhan membuat kami mencapai hasil yang jauh melebihi apa yang kami rencanakan. Perjalanan ke Makassar adalah bukti bahwa ketika kita melangkah maka keajaiban mengikuti. Dalam waktu dekat saya akan kembali pergi Makassar untuk perjalanan beberapa hari dan mencoba untuk kembali menguatkan dan berbagi kepada pelayan-pelayan Tuhan yang saya kenal ketika saya pergi untuk ke misi kemarin.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk bisa melayani di Jogjakarta. Sebuah pelayanan yang benar-benar diluar batas kemampuan saya. Saya diminta untuk membagikan Firman di kebaktian minggu (untuk pertama kalinya saya berkhotbah di mimbar gereja dari keluarga besar Every Nation Indonesia) dan semua ini mungkin berkat kepercayaan dari gembala saya. Siapa saya untuk bisa membagikan Firman Tuhan ditengah kebaktian umum. Hal lain yang saya syukuri adalah ketika ada sebuah sesi untuk mahasiswa dimana saya bisa melayani di Jogja bersama dengan adik saya di Jogja, kami berbagi mimbar di Jogjakarta, saya melayani dalam bahasa Indonesia dan adik saya menterjemahkan kedalam bahasa inggris karena ada beberapa mahasiswa internasional yang hadir mengikuti sesi tersebut.

Hal yang paling saya syukuri dalam pelayanan di 2017 adalah MURID dan LIFEGROUP. 2017 adalah tahun dimana saya sadar betul bahwa bukan tentang seberapa banyak yang orang yang kita khobathi melainkan seberapa banyak yang saya muridkan dan apakah murid saya menjadikan murid juga. Banyak pelayanan yang berfokus kepada jumlah jemaat (crowd) yang besar dan itu tidak salah. Akan tetapi, Yesus yang adalah contoh dari bagaimana kita harus melayani, sibuk dengan muridnya tidak sibuk dengan kerumunan orang yang mengikutinya. Kalaupun kalau Ia menyentuh kerumunan, Ia sebetulnya sedang mengajarkan sesuatu kepada murid-muridNya. Mengkhotbahi hanya waktu 45 menit, memuridkan membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena ada hubungan yang dibangun. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk berkhotbah melainkan memuridkan. Jadikan khotbah kita adalah bagian dari pemuridan kita, jangan sibuk khotbah dan lupa unutk memuridkan. Saya bersyukur bahwa bersama-sama dengan beberapa orang, kami secara konsisten dan setia selama 2017 menjalankan Life Group. Kami berkumpul setiap 2 minggu dan saling membangun satu sama lain.

Saya bersyukur untuk mentor saya, John kullit, (sekali dalam setahun nama anda layak untuk masuk tulisan saya;sombong sekali), bagaimana kami bisa duduk dan menajamkan satu sama lain (saya jadi ingat duduk berdua dengannya di sebuah kafe di kota kasablanka sampai tutup dan saya memberikan masukan-masukan kepadanya; dan saya sangat menikmati waktu-waktu diskusi kami). Tuhan baik.

Bisnis

Hahahahahhahahaha. Saya ingat suatu peristiwa di Alkitab ketika Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan memiliki anak dan istrinya tertawa karena berpikir janji itu terlalu mustahil. Sebetulnya secara garis besar (menurut saya) ekonomi di 2017 berjalan begitu sulit, dan banyak bisnis yang tumbang menghadapi kerasnya persaingan. Saya sendiri bersyukur bahwa di Tahun 2017 saya mencapai MDRT saya yang pertama kami. Apa itu MDRT? MDRT itu adalah klub sales asuransi yang anggotanya adalah sales asuransi dari seluruh dunia yang mencapai target tertentu yang ditetapkan oleh organisasi MDRT. Buat saya pencapaian ini, terasa begitu spesial karena ini jauh melampaui impian terliar saya selama 10 tahun berkarir di asuransi dan ini terjadi ketika dimana bisnis sedang sulit dan sebetulnya secara waktu saya sangat-sangat sibuk karena harus mengurus berbagai macam hal. Saya ingin menuliskan bagaimana proses Tuhan membuat saya mencapai MDRT (karena sampai awal DESEMBER, target ini terlalu jauh untuk dikejar dan hampir mustahil untuk mendapatkannya) akan tetapi saya rasa terlalu panjang untuk menuliskannya. Kemaren teman saya berbicara kepada saya, “Lo harus bersyukur lo mencapai jauh dari apa yang lo capai di 2016 di saat semuanya sedang sulit” Saya bukan hanya bersyukur, saya sangat-sangat bersyukur. Tuhan baik.

Personal

Memulai Tuhan ini sebetulnya sangat berat. Sangat-sangat berat. Perpisahan yang terjadi di akhir 2016 membuat saya begitu berat menjalani hari-hari dalam kehidupan saya. Saya bersyukur untuk orang-orang yang berdiri, menopang, dan mendorong saya untuk maju. Begitu banyak hari-hari yang saya lewati dengan rasa frustrasi kehilangan, akan tetapi kekuatan demi kekuatan terus-menerus diberikan oleh Tuhan lewat orang-orang disekitar saya. Beberapa bulan yang lalu, gembala saya memanggil saya ke ruangannya secara mendadak, saat itu saya sangat bingung kenapa saya dipanggil dan mulai berpikir kesalahan apa yang sedang saya buat, tetapi ternyata bukan itu yang menjadi alasan saya dipanggil. Gembala saya menanyakan saya tentang kondisi kehidupan percintaan saya. Lucu memang, tetapi ada banyak nasihat yang membangun dan mebuat saya yakin untuk terus maju didalam panggilan Tuhan dan yakin bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik untuk saya. Dan sejujurnya, saya saat ini sedang mendoakan seseorang dan saya tidak tahu juga apakah dia atau bukan yang Tuhan akan sediakan untuk saya.

Satu lagi, dari highlight kehidupan pribadi saya di 2017 adalah SAYA BERHASIL MENYELESAIKAN HALF MARATHON (21 Km) untuk pertama kalinya pada event Jakarta Marathon. Cerita singkatnya seperti ini, pertengahan tahun 2017 saya berencana untuk hidup sehat dan komit kepada satu jenis olahraga. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk komit kepada olahraga lari. Hanya bermodalkan youtube dan informasi kanan dan kiri saya mulai berlari. Saya tidak bergabung dengan klub atau komunitas lari manapun, saya hanya mencoba berlari secara rutin setiap minggunya. Waktu berjalan dan saya menikmati olahraga lari yang saya lakukan. Singkat cerita, saya mendaftar event tahunan Jakarta Marathon 2017 untuk jarak 10 km saja, karena jarak tersebut adalah jarak terjauh yang saya bisa tempuh selama saya berlari. Cerita menjadi berubah total karena seorang teman yang mendaftar untuk jarak 21 km secara mendadak membatalkan keikutsertaanya dan memberikan slot 21 km miliknya untuk saya. Awalnya saya sempat ragu karena 2 hari menjelang lari saya masih berada di Malaysia untuk mengikuti konferensi. Akhirnya tibalah harinya dimana saya (sendirian, tanpa komunitas, tanpa kenalan) harus menghadapi Half Marathon saya. Saya start terlambat karena mendadak sakit perut dan antrian WC begitu panjang. Saya ingat, selama saya berlari entah berapa ribu orang dari jarak yang lebih rendah (karena mereka start belakangan) melewati saya, saya merasa ingin memuaskan ego saya dan mencoba lari untuk melewati orang-orang yang melewati saya tetapi saya terus berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya hanya perlu fokus untuk menyelesaikan perlombaan saya bukan kepada orang-orang yang berada di sekitar saya. Saya terus berlari dan tidak berhenti dan terus melawan pikiran saya yang berkata bahwa saya sudah cukup jauh (terutama setelah 10 km), dan ketika saya terus berlari sesuai dengan kecepatan dan irama lari yang saya nyaman, saya mulai melewati orang-orang yang start lebih dahulu daripada saya di kilomter ke 12, begitu banyak orang yang berjalan karena kelelahan Sedangkan saya terus belari dengan kecepatan yang nyaman sampai ke garis finish. Saya bersyukur bahwa saya ternyata bisa menyelesaikan apa yang menjadi perlombaan saya. Ada banyak pelajaran yang saya petik tentang kehidupan selama saya berlari, akan tetapi terlalu panjang untuk saya tuliskan semua. Tuhan baik.

Penutup

Walaupun tulisan diatas begitu panjang, ada banyak hal yang tidak bisa saya tuliskan pada tulisan saya kali ini. Ada banyak kegagalan selama 2017 dan ada juga banyak keberhasilan selama 2017 yang terjadi didalam hidup saya. Satu hal yang saya semakin pahami adalah hubungan dengan Tuhan itu tidak bisa tergantikan dan itu yang akan kita bawa sampai kekekalan. Tidak ada kepuasan yang dapat menggantikan kepuasan yang saya dapatkan didalam hubungan pribadi saya dengan Tuhan. Jika saya harus menukar seluruh pencapaian yang saya dapatkan selama 2017 dengan hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan, saya akan melakuakannya dengan sukacita. Semakin saya naik, semakin saya tahu bahwa Tuhan haruslah tetap menjadi yang terutama didalam hidup saya. Hidup bukan tentang apa yang terjadi dengan kita, bukan juga tentang sekadar bagaimana respons kita, tetapi tentang siapa yang bersama dengan kita ketika semua hal itu terjadi. Saya bersyukur untuk Tuhan yang selalu bersama-sama dengan saya. Sekali lagi, Tuhan baik.

2018, Bring it on.

Cheers,

Binsar Gideon

Posted in Kesaksian Saya | Tagged | Leave a comment

Bintang-Nya

wise_men_1

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:1-2 TB, penekanan oleh saya)

Tanpa terasa kita sudah memasuki akhir dari tahun 2017 yang juga berarti natal yang sudah didepan mata. Untuk saya pribadi, 2017 adalah tahun dimana saya akan menghadiri perayaan natal terbanyak. Natal dengan keluarga, gereja, teman pelayanan, sekolah, kantor, life group, dan masih banyak lagi. Mungkin ada sekitar 12 perayaan natal yang harus dihadiri selama Desember ini. Secara fisik memang sangat capek tapi begitulah Desember, selalu penuh dengan kemeriahan natal.

Akan teteapi, jikalau kita tidak hati-hati, maka sebetulnya natal bisa menjadi sekadar acara tahunan yang kita rayakan di akhir tahun. Padahal natal yang sesungguhnya adalah sebuah momen dimana Tuhan turun ke dunia dalam rupa manusia untuk bisa menebus dosa-dosa kita. Tuhan datang untuk memberi kegembiraan, bukan kegembiraan yang hanya terbatas akan berkat jasmani, melainkan kegembiraan karena Raja segala raja telah datang ke dunia dan melepaskan kita dari perbudakan dosa yang membelenggu kita.

Kemarin saya membaca kisah natal yang ditulis dalam Injil Matius dan ketika membacanya, ayat tersebut seperti keluar dan berbicara banyak kedalam hidup saya. Dalam kisah natal itu, diceritakan bahwa ada sekelompok orang majus yang melihat bintang-Nya dan mengikutinya sehingga bertemu dengan bayi Yesus di Betlehem. Setelah bertemu dengan bayi Yesus, mereka sujud menyembah dan mempersembahkan persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur. Mereka melihat bintang, tetapi mereka tahu bahwa bintang itu bukan untuk disembah. Mereka tahu bahwa Yesus saja yang layak disembah.

Dalam perjalanan kita bertemu dengan Tuhan pasti ada “bintang” yang menjadi penunjuk jalan. Buat sebagian dari kita bintang tersebut mungkin berkat, kesembuhan, keluarga, promosi atau sesuatu hal yang luar biasa. Buat sebagian yang lain, mungkin “bintang” tersebut berupa masalah, persoalan, sakit-penyakit, hutang, atau sesuatu hal yang menyakitkan. Apapun itu, kita tahu bahwa “bintang” tersebut menjadi petunjuk untuk kita sadar bahwa ada Pribadi yang Mahakuasa dan peduli akan hidup kita. Akan tetapi seringkali secara tidak sadar kita hanya berhenti sampai di bintang tersebut saja dan lupa bahwa “bintang” tersebut seharusnya membawa kita lebih dekat lagi kepada-Nya.

Saya berdoa bahwa natal ini adalah sebuah momen dimana kita sadar bahwa kita ada untuk menyembah Dia. Apapun yang terjadi dalam hidup kita (terutama tahun ini) baik itu senang maupun sulit, jadikan itu sebuah petunjuk untuk kita bisa bertemu dan menyembah Tuhan kita. Jangan berhenti sampai kepada pemberiannya saja, kejar Pribadi yang memberikannya. Orang-orang majus bisa saja berhenti di Istana Herodes dan menikmati apa yang indah-indah menurut dunia, tetapi mereka terus berjalan mencari bayi Yesus. Mereka harus meninggalkan istana megah dan memasuki kandang domba tetapi mereka tahu ada sukacita sejati ketika kita bisa bertemu dengan Raja segala raja dan sujud menyembah-Nya sambil mempersembahkan yang terbaik yang ada dalam hidup kita.

Selamat Natal semuanya 🙂

Sambil menunggu waktu makan Pokenbir untuk natal life-group,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Cacar Air

curare-la-varicella

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. (Pkh 3:1 TB, penekanan oleh saya)

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pkh 3:11 TB, penekanan oleh saya)

Beberapa waktu yang lalu, janji temu saya dengan seorang teman batal karena teman saya terkena cacar air. Mendengar alasan pembatalannya membuat saya tertawa-tawa sendiri karena menurut saya yang sudah tua ini, cacar adalah penyakit yang kebanyakan terjadi ketika kita masih kecil. Saya juga tidak mengerti cacar air dari sudut pandang medis (apakah itu hanya terjadi pada anak kecil, orang dewasa, atau bisa berulang-ulang), yang saya tahu saya pernah melewatinya ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ayat diatas berkata bahwa segala sesuatu indah pada waktunya. Saya yakin bahwa kata ‘segala sesuatu’ menunjukkan bahwa semua hal (baik, buruk, sulit, mudah, menyenangkan, menyebalkan) ada masanya dan memang harus kita lewati. Waktu terbaik untuk melewati apa yang sedang kita lewati saat ini adalah saat ini. Pengertian yang benar akan situasi yang sedang kita hadapi saat ini, membantu kita untuk bisa bersyukur akan apa yang sedang kita lewati. Apapun yang sedang kita lewati saat ini, bersyukur bahwa kita sedang melewatinya saat ini.

Waktu saya masih kecil, saya begitu menderita dan merasa tidak nyaman dengan penyakit cacar yang saya alami. Akan tetapi, melihat teman saya baru terkena cacar saat ini, membuat saya bersyukur saya dulu sudah pernah terkena cacar. Bayangkan jika saat itu saya bisa menundanya, dan memilih untuk menundanya, tentu saya akan menderita belakangan. Semua yang sedang kita lewati hari ini, indah untuk kita lewati saat ini.

Apa masalahmu hari ini? Belajar bersyukur bahwa kamu bisa mengalaminya hari ini, karena besok ketika kamu sudah bisa melewatinya, kamu akan melihat ke belakang, dan bersyukur bahwa kamu sudah pernah melewatinya.

Dari kamar yang dingin dan jantung yang dag dig dug karena mempersiapkan khotbah,

Binsar Gideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

THE BED – Kuala Lumpur

Akhirnya sempet. Setelah kebanyakan buang-buang waktu akhirnya sempet juga nulis review capsule hotel yang baru aja gw datengin beberapa minggu lalu. Jadi ceritanya gw ada seminar di Sunway, karena seminarnya di hari yang nanggung (selasa-kamis) gw putuskan berangkat 2 hari lebih awal untuk sekedar jalan-jalan menikmati Kuala Lumpur. Nah setelah mencari beberapa tempat yang menarik hati dan mengerti dompet, setelah melihat beberapa tempat, akhirnya pilihan gw jatuhkan kepada THE BED. Pilihan yang menurut gw sangat tepat. Harganya MURAH BANGET, hanya 100ribu rupiah per malam. Tentu ini bukan kamar pribadi yah, melainkan kamar berbagi, ada 14 tempat tidur dengan jenis kelamin campur di kamar gw. Berikut adalah reviewnya.

LOKASI

Lokasi THE BED bisa dibilang sangat strategis, karena berada diantara KLCC, Bukit Bintang, dan KL Tower. SUntuk mencapai THE BED dari KL Sentral, ada dua pilihan angkutan yang bisa lo pilih. Lo bisa naik MRT turun di bukit nenas, atau LRT turun di dang wangi. Sebetulnya, untuk mencapai hotel ini lebih dekat jalan kaki dari bukit nenas, tapi berhubung di beberapa stasiun MRT ini cenderung berhenti lebih lama mending naik LRT deh. Lebih cepat dan murah. THE BED ini menempati beberapa lantai (kalau gak salah 3 lantai) dari satu bangunan apartemen yang bernama VORTEX dan disekitar gedung ini ada beberapa klub malam yang katanya mewah (pantes pas gw pulang agak malem banyak mobil mewah berseliweran) dan persis di seberang VORTEX adalah hotel shangrilla yang hanya bisa gw pandangi dengan iman dan keyakinan bahwa suatu hari gw akan nginep disana.

Alamat lengkapnya : VORTEX KLCC, 12, Jalan Sultan Ismail, Kuala Lumpur, 50250 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

101868938

FASILITAS

Fasilitas yang disediakan oleh THE BED lengkap, bagus, dan bersih. Gw sih agak kagum dengan cara mereka menjaga kebersihan dan lebih dari itu, gw kagum banget dengan bagaimana mereka memperhatikan segala sesuatunya dengan sangat detail. Gw sangat terkesan. Sekali lagi, gw sangat terkesan.

KAMAR

Ketika gw selesai check in, gw bukan hanya sekedar dikasih kartu akses untuk masuk kekamar gw, gw dikasih komplit sama gantungan lehernya. Jadi gw berasa kayak lagi masuk gedung kantor dibandingin sama masuk hotel. Gw dapet kartu dengan nomor E02, artinya kamar E tempat tidur nomor 2. Setelah selesai dengan check in, gw dianter oleh petugasnya ke kamar gw yang berlokasi di lantai 3 dan pintu masuknya tepat disebelah pintu lift. Sebelum masuk kamar petugas gw menunjukkan lokasi loker sepatu gw yang berada di luar kamar, di loker ini ada sendal buat gw pake selama gw tinggal. Jarang-jarang ada capsule hotel ada sendalnya. Setelah tuker sendal, gw masuk kamar gw dan ada 14 tempat tidur yang bertumpuk atas bawah dan dan ditutup dengan kayak semacam Sun Shield yang untuk mobil dengan sistem buka tutupnya kayak layar proyektor. Kamarnya sih memang kecil banget (namnya juga capsule) tapi bersih dan tempat tidurnya empuk dan nyaman. Nah, yang luar biasanya, ditengah kecilnya capsule lo, mereka bikin meja lipat di dinding, yang kalau dibuka, ada kacanya, blom lagi colokannya itu universal jadi lo gak usah keluarin converter lo kalo lo mau colok apapun disitu. Gokil. Makanya gw bilang mereka detail banget. Oiya, lo juga dapet loker yang ukurannya lumayan di dalam kamar dan handuk.

KAMAR 1

Kartu Akses

101867985

Kamar yang super sempit tapi lengkap

100315201

Perhatikan colokannya

Pintu masuk kamar persis disebelah lift

WhatsApp Image 2017-11-17 at 15.34.49

Loker sepatu

hqdefault

ada 14 capsule di kamar gw

KAMAR MANDI

Kamar mandi di THE BED ini mantap. Pertama, disetiap kamar ada 2 kamar mandi besar dengan standard hotel yang ada dimasing-masing kamar termasuk kamar gw. Kedua, selain kamar mandi di kamar ada juga kamar mandi umum di lantai 2. Kamar mandinya selain bersih banget dan tertata dengan rapih, kamar mandi disana banyak banget gantungannya, gw sampe heran, asli gw gak boong, gantungan dimana-mana. Di kamar mandi umum ini, ada ruang bilas, wc, ruang ganti, dan ruang setrikaan dengan jumlah masing-masing ruangan yang banyak kecuali ruang setrikaan. Gw aja sampe heran sendiri. Pokoknya untuk urusan kebersihan, top banget.

100315202

Kamar mandi didalam kamar

KAMAR MANDI

Kamar mandi umum

COMMON AREA

Common Area yang ada di THE BED ini sangat luas dan ditata dengan interior yang sangat menarik. Ada bean bag, sofa, kursi biasa, dan kursi ala tukang baso yang tinggi. Colokan ada dimana-mana, selain itu ada juga lemari yang penuh dengan buku-buku. Sayangnya karena gw harus pergi pagi, jadi gw tidak sempat menikmati bercengkrama dengan tamu-tamu lain. Sempet ngomog sebentar dengan fotografer asal Thailand tapi cuma sekilas karena gw harus mengejar sarapan nasi lemak bersama teman di KL Sentral.

100315188

Ruang pertama dari Common Area

100315199

Koleksi buku-buku

100315206

Ruang kedua yang memiliki Dapur

DAPUR

Seperti keterangan gambar diatas, dapur dari THE BED terletak di Common Area. Kalau gw tidak salah ingat, dapur disini menggunakan kompor listrik bukan kompor api. Selain ada kulkas, dan dispenser air sebagai peralatan wajib, ada mesin kopi didapur ini yang menyediakan kopi dan variannya secara gratis hanya sampai jam 10 pagi saja, setelah jam 10 akan dikenakan biaya. Nah di THE BED kita mendapatkan sarapan. Pagi itu, ada roti canai, roti tawar, kari ayam (tapi tampilannya tidak menarik), selai, mentega oles yang tersedia untuk tamu-tamu.

Common area yang juga bersaman dengan dapur

Sudut tempat membuat kopi

STAFF

Staff disini ramah-ramah dan cepat menanggapi keluhan. Jadi waktu gw menginap, ada sedikit masalah kelistrikan terkait lampu yang terjadi dikamar gw. Paginya gw info, tidak lama kemudian langsung ada tukang listrik yang datang membereskan listrik di kamar gw.

KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan, bisa dibilang THE BED ini sangat-sangat memuaskan. Mereka merancang tempat ini dengan sangat detail dan menarik. Kalau gw balik lagi ke KL (yang gw rencanakan dalam waktu dekat demi makan di beberapa tempat yang kemarin belum kesampaian), besar kemungkinan gw akan nginep kembali disini. Semoga harganya tetap murah dan kualitasnya tetap bagus.

Selamat jalan-jalan,

Cheers,

BinsarGideon

Posted in random stuff | Tagged , | Leave a comment

Herodias

Herodias.jpg

sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. (Markus 6:20-21 TB, penekanan oleh saya)

Renungan pagi saya hari ini diambil dari kisah pemenggalan Yohanes Pembaptis oleh Herodes atas permintaan Herodias (istri Herodes). Kisah ini dimulai dari tegoran oleh Yohanes kepada Herodes karena Herodes mengambil istri saudaranya sendiri. Alih-alih membereskan dosanya, Herodes malah membiarkan Herodias tetap ada didalam hidupnya. Herodes tidak membenci Yohanes atas tegorannya, karena Herodes menganggap Yohanes adalah orang suci, dan Herodes juga suka mendengarkan ajarannya.

Disatu sisi Herodes menyukai Yohanes yang adalah suara Tuhan dalam hidupnya, disisi lain ia tidak mau melakukan apa yang Tuhan katakan. Ia suka mendengar tetapi tidak suka melakukan. Herodias yang sadar bahwa selama ada Yohanes maka posisinya sebagai permaisuri tidak aman selama ada Yohanes didekat Herodes mencari waktu yang tepat untuk membunuh Yohanes. Singkat cerita, Herodias berhasil membuat Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Alkitab mencatat, bahwa dengan sangat berat hati Herodes memenggal kepala Yohanes, akan tetapi ia harus melakukannya karena janjinya didepan banyak orang.

Hal yang sama sebetulnya bisa menjadi refleksi dalam kehidupan sehari-hari kita. Apa yang menjadi “Herodias” dalam kehidupan kita? Sesuatu yang kita tahu tidak benar tetapi kita tetap saja kita nikmati, baik itu secara sendirian atau beramai-ramai. Herodias juga bisa berarti ketergantungan kita akan hal-hal tertentu yang kita tahu Tuhan tidak suka. Jika kita tidak mengambil langkah iman untuk memutuskan hubungan kita dengan “Herodias” maka akan ada masa dimana “Herodias” kita membunuh suara Tuhan dalam hidup kita.

Seringkali kita berharap kita bisa hidup di dua dunia. Disatu sisi kita menikmati suara Tuhan didalam hidup kita, disisi lain kita tetap melakukan apapun yang ingin kita lakukan kalaupun kita tahu bahwa itu mendukakan hati Tuhan. Keengganan Herodes untuk melepaskan hubungannya dengan herodias (dosa) didalam hidupnya mengakibatkan kematian Yohanes Pembaptis (suara Tuhan) didalam hidupnya.

Coba cek hidup kita untuk beberapa saat, apa yang menjadi herodias kita?

Sebelum lari 7km,

 

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Seandainya

fishermen-chad_25993_990x742

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19 TB)

Seandainya ayat diatas berbunyi :

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat bahagia seumur hidup.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat terkenal.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat penuh dengan pelayanan.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendoa syafaat” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi orang paling sukses.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendeta.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi penatua jemaat.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pemusik.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi seorang guru.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi sehat dan penuh mujizat.” atau

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi (apapun itu yang kita inginkan).”

Seandainya ayat tersebut berkata seperti salah satu yang sudah saya sebutkan diatas tentu hidup akan jauh lebih ‘menyenangkan’.

Sayangnya Ia tidak berkata seperti itu.

Perjalanan kekristenan kita dimulai dari inisiatif Tuhan mendatangi kita untuk mempunya suatu hubungan pribadi dengan kita. Itulah mengapa Ia berkata “Mari”.

Setelah kita mempunyai hubungan pribadi dengan Dia, Dia mengajak kita untuk bisa mengikutiNya dalam kemanapun Ia pergi. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding bisa menikmati perjalanan bersama dengan mereka yang kita cintai. itulah mengapa Ia berkata “ikutlah Aku.”

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu menjadi penjala Manusia. Penjala manusia adalah puncak daripada panggilanNya dalam hidup kita. Bukan mimbar, bukan panggung, bukan apapun itu yang terlihat rohani.

Jika dalam perjalanan iman kekristenan kita, kita tidak memiliki keinginan untuk menjala manusia besar kemungkinan ada yang salah dalam proses kita mengikuti Tuhan. Datang kepada Tuhan, mengikuti Tuhan, menjadi penjala manusia adalah tiga hal yang tidak terpisahkan.

Sulit untuk berani berkata bahwa kita mengikuti Tuhan jika kita tidak pernah menjala manusia.

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Cakap

Catatan : Tulisan ini ditulis oleh pria lajang. jadi kebenarannya belum teruji 100 persen, please feel free untuk tidak atau berhenti membaca tulisan ini. Jika anda tidak setuju dengan tulisan saya, maka kemungkinan besar anda yang benar.

CmhHsd8WIAA7owW

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. (Amsal 31:10 TB)

Kekristenan diwarnai dengan begitu banyak teologi, aliran, pengajaran, liturgi, ataupun apapun itu. Akan tetapi, berbicara masalah perkawinan hampir semua (setidaknya semua yang sudah pernah saya dengar) pengajaran menyimpulkan hal yang sama. Mereka menyimpulkan dengan perkataan seperti ini:

“Keputusan kita dengan siapa kita menikah adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup kita setelah keputusan kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat”

Sebuah statement yang sebetulnya saya tidak suka, akan tetapi sangat Alkitabiah. Saya sendiri heran, apapun alirannya, ketika sedang mengajar tentang pernikahan selalu memiliki kesimpulan yang sama. Saya selalu berpikir, seandainya pernikahan itu menggunakan hukum trial and error, pada kenyataanya tidak. Pernikahan adalah sebuah momen komitmen satu kali kita dihadapan Tuhan.

Amsal 31 adalah sekumpulan nasihat dari seorang istri raja kepada anaknya yang adalah calon penerus tahta (perlu diperhatikan bahwa ayat ini merupakan bagian dari amsal terakhir). Setelah melewati 30 amsal nasihat tentang berbagai masalah kehidupan, penulis menutup nasihatnya dengan nasihat mengenai memilih siapa yang akan dijadikan pasangan hidup. Betapa pentingnya untuk menemukan pasangan yang tepat.

Dari begitu banyak nasihat yang diberikan pada Amsal 31, ayat yang saya ditulis diatas adalah ayat yang beberapa hari ini seperti stuck dipikiran saya. Ayat ini dengan jelas menekankan bahwa mencari kekayaan lebih mudah dibanding mencari istri yang cakap. Ada banyak pria berpikir, “gua mau kaya dulu, baru cari istri! Nanti kalau gw udah kaya, semua wanita juga gw bisa pilih untuk jadi istri.” Akan tetapi, ayat ini berkata sebaliknya, kekayaan tidak menjamin bahwa kita akan mendapat istri yang cakap. Disisi yang lain, banyak wanita berpikir menjadi cantik adalah solusi untuk mendapatkan suami yang ‘mumpuni’, padahal kalau kita dinikahi karena kecantikan kita maka jangan menyesal ketika kita ditinggalkan oleh suami bersamaan dengan memudarnya kecantikan.

Ayat ini berbicara secara jelas kepada pria dan wanita. Saya akan mencoba menjelaskannya dengan pengertian sederhana yang saya punya.

WANITA

Perhatikan definisimu tentang cantik.

Ayat ini sedang berbicara bahwa setiap wanita bisa menjadi istri, tetapi tidak semua bisa menjadi istri yang cakap. Apakah kata cakap ini berarti ‘cantik’ secara fisik? Kelihatannya tidak. Saya mencoba mencari terjemahan lain dari ayat tersebut yang menggunakan kata ‘cantik’ sebagai pengganti kata ‘cakap’ dan saya tidak menemukannya. Terjemahan yang lain untuk kata ‘cakap’ yang saya temukan adalah berkarakter mulia, ekselen, layak, rajin, bermoral, beretika, punya prinsip.

Wanita cantik itu banyak dan relatif. Satu hal yang pasti mengenai kecantikan adalah kecantikan pasti pudar. Jadi, cantik itu relatif, pudar itu pasti. Coba perhatikan model-model majalah tahun 40-an pasti sekarang sudah terlihat hilang atau setidaknya berkurang kecantikannya.

Dalam suratnya kepada kaum pendatang, Rasul Petrus menulis:

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. (1 Pet 3:3-4 TB, penekanan oleh saya)

Saya tidak yakin Petrus sedang menganjurkan wanita untuk terlihat sejelek mungkin, atau seaneh mungkin. Akan tetapi, Rasul petrus sedang mengatakan bahwa nilai seorang wanita adalah dari bagaimana ia mendandani manusia batiniahnya. Tidak salah menggunakan segala barang bermerek dan mahal, akan tetapi, pastikan bahwa manusia batiniah kita lebih cantik dari manusia jasmani kita. Kita semua tahu bahwa tidak ada perhiasaan bagus yang murah, dibutuhkan usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. Hal yang sama juga berlaku untuk perhiasaan manusia batiniah kita, tidak murah dan tidak mudah. Bekerjalah lebih keras untuk mendandani manusia batiniah kita.

Apakah kita didapati cukup cakap ketika kita ditemukan?

PRIA.

Perhatikan apa yang kamu cari.

Ada banyak pencarian dalam Alkitab, mencari istri yang cakap adalah salah satunya. Jadi, mendapatkan istri yang cakap adalah sebuah proses pencarian, bahkan sebuah pencarian yang tidak mudah. Seringkali pria mencari dengan menggunakan mata jasmaninya, seorang wanita yang terlihat cantik biasanya akan membuat adrenalin berpacu lebih kencang. Tidak salah mencari yang cantik, yang salah adalah ketika pencarian berakhir pada kecantikan jasmani.

Untuk bisa melihat yang tidak terlihat secara mata jasmani, maka kita haruslah menjadi orang-orang yang terbiasa melihat dengan mata batin kita. Apakah kita biasa menggunakan mata batin kita? Atau kita terbiasa hanya melihat apa yang mata jasmani kita lihat? Untuk saya pribadi, ayat diatas menggambarkan bahwa mencari istri yang cakap adalah hal yang sangat sulit cenderung mustahil selain jika Tuhan yang menunjukkannya kepada kita.

Saya mendengar banyak kesaksian yang unik tentang orang mendapatkan istri yang cakap lewat tuntutan Tuhan. Ada yang mendengar suara Tuhan secara jelas, ada yang dituntun lewat kegagalan demi kegagalan, ada yang ditengah pelayanan, ada yang sejak masa sekolah. Satu hal yang pasti, semuanya memiliki pengalaman dengan Tuhan. Penting untuk kita bisa melihat dengan cara Tuhan melihat di segala area kehidupan kita sebelum kita bisa melihat istri yang cakap. Supaya adil maka saya akan menuliskan kembali apa yang Rasul Petrus tulis,

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. (1 Pet 3:3-4 TB, penekanan oleh saya)

Rasul Petrus sedang menulis apa yang Tuhan lihat dari seorang wanita. Allah memperhatikan wanita yang manusia batiniahnya yang mengenakan perhiasan yang tidak dapat binasa.

Apakah kita melihat hal yang sama dengan apa yang Tuhan lihat? Atau kita berhenti hanya pada kecantikan dari luar saja?

Kesimpulannya adalah,

“Keputusan kita dengan siapa kita menikah adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup kita setelah keputusan kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat.”

Cheers,

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Liturgi

yesus-1menyembuhkan-orang-yang-mati-tangan-kanannya

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. (Markus 3:1 TB, penekanan oleh saya)

Cerita perjalanan Yesus di Markus 3 dimulai dengan sebuah narasi dimana Yesus masuk ke rumah ibadat dan Ia mengarahkan mataNya kearah seorang yang tangannya mati sebelah. Beberapa saat setelah Yesus melihat orang tersebut, Yesus membawa orang tersebut ke tengah-tengah rumah ibadat sehingga orang tersebut menjadi pusat perhatian.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita semua yang ‘rutin’ pergi ke rumah ibadat untuk bisa melihat apa yang Yesus lihat. Seringkali kita pergi ke rumah ibadat untuk sebuah liturgi. Saya tidak mempermasalahkan liturgi, karena pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturgi. Untuk gereja tradisional, liturgi adalah sebuah tata ibadah yang dibagikan kepada jemaatnya menjelang ibadah di mulai. Sementara untuk gereja karismatik, liturginya lebih dikenal dengan ‘rundown’. Jadi pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturginya sendiri. Tidak ada yang salah dengan liturginya, yang jadi salah adalah kita pergi beribadah dengan fokus kepada liturgi.

Seringkali secara tidak sadar liturgi membuat kita beribadah dengan paradigma “yang penting saya sudah beribadah”, padahal di tempat kita beribadah ada banyak orang yang datang dan membutuhkan pertolongan. Mungkin hubungan mereka dengan Tuhan sedang mati, mungkin keluarga mereka sedang hancur, mungkin mereka sedang sakit secara fisik atau perasaan. Paradigma “yang penting saya sudah beribadah” menyebabkan kita tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Tuhan pergi ke rumah ibadat untuk mereka yang ‘hilang’ di rumah ibadat.

Seringkali saya pergi beribadah dengan suatu perhitungan. Berapa lagu lagi sebelum khotbah, berapa menit lagi sebelum khotbah selesai, berapa lama lagi sampai doa berkat dilepaskan di mibar gereja. Setelah ibadah selesai seolah-olah ada sebuah beban “ini hari minggu, saya harus ibadah” lepas dari pundak saya. Ini sama sekali tidak sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menjangkau mereka yang hilang dirumah ibadat, itulah mengapa Yesus seringkali membuat ‘kekacauan’ ditengah-tengah ibadah, supaya kita semua bisa melihat dan sadar bahwa ada yang lebih penting sekedar liturgi ibadah. Manusianya lebih penting daripada programnya.

Kapan terakhir kita melihat kebutuhan orang lain di rumah ibadat? Atau jangan-jangan malah kita sibuk menghakimi mereka yang sedang menjangkau orang lain?

 

 

Dari tepi kolam pemandian air panas ciater,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment