Bohemian Rhapsody

*terjemahan bahasa indonesia ada setelah bahasa inggris.

Yesterday I just watched “Bohemian Rhapsody”. A great movie about the life of Farrokh Bulsara, known as Freddie Mercury the phenomenal vocalist of all time great band named Queen. As i was watching the movie i remembered one statement from Steven Furtick that says ,”Success is Scary.”

If we can’t handle our success well, success is a very terrifying thing. We will be driven away by our success. Freddie was just a guy who has passion on music, he had no idea that one day he will become one of the most successful person in the music industry.  Billions of people watched his performance, millions of dollar went to his bank account, nights full of party, and all else that most of people would dream of. It is a tragedy that his life was ended by an AIDS-related disease. Success is scary. He can handle his passion in music not his success.

Many of us dream a successful life, if we are asked what do we really want in life, we simply say we want a successful life. We do whatever it takes to be a successful person in our family, career, finance, health, business, and even ministry. And yes i believe we are called to be successful. But the million dollar question is what will happen to us when we become successful? I am not against a successful life but my concern is are you ready for your success? Will God still the one who control yourself or you let yourself controlled by your success?

One day Jesus was tempted by the devil by an offer of a successful life.

Again, the devil took him to a very high mountain and showed him all the kingdoms of the world and their glory. And he said to him, “All these I will give you, if you will fall down and worship me.” Then Jesus said to him, “Be gone, Satan! For it is written,“‘You shall worship the Lord your God and him only shall you serve.’” (Mat 4:8-10 ESV)

Jesus’ response was amazing, he rebuked the devil and continued by telling us the real definition of success. Our highest calling is to worship God and serve him. If we are successful in life, use our a success as a reason to worship God even more, let not our success master us but let God be the master of our life.

I pray that you will succeed in every areas that you are in now, but more than that i pray that through your success, God will be glorified even more.

Cheers,

Binsargideon

—————————————————————————————————————————————–

Kemarin saya menonton film “Bohemian Rhapsody”. Sebuah film bagus yang menceritakan tentang Farrokh Bulsara, atau yang lebih dikenal sebagai Freddie Mercury. Penyanyi fenomenal dari sebuah band yang sangat hebat yang bernama Queen. Ketika saya sedang menonton film tersebut, saya teringat satu pernyataan dari Steven Furtick (gembala sidang elevation church) yang berkata, “Sukses itu menakutkan.”

Jika kita tidak bisa mengendalikan sukses dengan baik, sukes adalah hal yang sangat menakutkan. Kita akan dibawa pergi jauh ke tempat yang tidak seharusnya kita datangi. Freddie hanyalah seseorang yang memiliki gairah dibidang musik, dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kelak dia kan menjadi orang yang sangat sukses di industri musik. Milyaran orang menyaksikan penampilannya, jutaan dollar masuk ke pundi-pundinya, malam-malam yang penuh dengan pesta, dan berbagai hal lain yang menjadi impian begitu banyak orang. Adalah sebuah tragedi bahwa hidupnya harus berakhir karena suatu penyakit yang berkait dengan AIDS. Dia bisa mengendalikan gairahnya di bidang musik tetapi dia gagal mengendalikan keberhasilannya.

Banyak dari kita bermimpi akan hidup yang sukses. Jika kita ditanya akan apa yang benar-benar kita inginkan didalam kehidupan kita, kita akan mudahnya menjawab kita ingin kehidupan yang sukses. Kita melakukan apapun yang diperlukan untuk menjadi orang yang sukses di bidang keluarga, karir, keuangan, kesehatan, bisnis, dan bahkan pelayana. Dan ya saya percaya bahwa kita dipanggil untuk menjadi berhasil. Akan tetapi, pertanyaan pentingnya adalah apa yang akan terjadi dengan kita ketika kita berhasil? Saya tidak menentang kesuksesan tetapi apa yang ingin saya sampaikan adalah apakah kita siap untuk sukses? Apakah Tuhan masih menjadi pribadi yang mengatur hidup kita atau kita mengijinkan hidup kita diatur oleh kesuksesan?

Suatu hari Yesus pernah dicobai oleh Yesus lewat sebuah penawatan akan hidup yang penuh dengan kesuksesan

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat 4:11 TB)

Respon Yesus begitu luar biasa, dia mengusir iblis dan memberi kita arti sukses yang sejati. Panggilan tertinggi kita adalah untuk menyembah Tuhan dan melayani-Nya. Ketika kita sukses, gunakan kesuksesan sebagai alasan untuk kita menyembah Dia lebih lagi, jangan biarkan sukses meperhamba kita sebalikanya jadikan Tuhan penguasa dalam hidup kita.

Saya berdoa bahwa kita akan berhasil didalam situasi kita saat ini, tetapi lebih dari itu, saya berdoa bahwa melalui sukses kita, Tuhan akan semakin ditinggikan.

Cheers,

Binsargideon

 

Advertisements
Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Terbatas

limited

Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku. (Hak 7:2 TB)

Ayat diatas adalah Firman Tuhan kepada Gideon dalam cerita di kitab hakim-hakim yang sederhananya seperti ini,

Bangsa Israel memberontak kepada Tuhan. Tuhan mengijinkan bangsa Israel ditindas oleh musuh yaitu bangsa midian. Bangsa Israel menjerit untuk pertolongan dari Tuhan. Tuhan mengutus Gideon untuk membawa kelepasan kepada bangsa Israel. Gideon ragu-ragu. Tuhan meyakinkan Gideon. Gideon akhirnya mau melakukan panggilannya. Tuhan membuat orang-orang mengikuti Gideon. Tuhan berkata terlalu banyak yang mengikuti dia. Tuhan memerintahkan Gideon untuk memangkas pasukannya hingga 300 orang padahal yang dihadapi adalah puluhan ribu tentara musuh. Tuhan memberikan kemenangan kepada Gideon.

Apa yang aneh dari cerita singkat diatas? Yang aneh adalah Tuhan menginspirasi orang untuk membantu Gideon adalah Tuhan yang sama yang berkata terlalu banyak yang membantu Gideon. Secara jumlah, orang yang membantu Gideon jauh lebih sedikit dari tentara midian dan tidak berpengalaman di medan tempur. Sudah sedikit, tidak berpengalaman. Itulah uniknya Tuhan.

Pernah gak sih merasa bahwa panggilan kita terlalu besar? Kita merasa terlalu terbatas untuk mengerjakannya? Wajar. Semua pahlawan iman pernah mengalaminya.
Pernah mengalami situasi dimana sepertinya orang meninggalkan kita sementara tugas masih jauh dari selesai? Wajar. Tuhan sering mengijinkannya.

Keterbatasan kita seringkali adalah alat dimana Tuhan bisa bekerja secara tidak terbatas. Seringkali keterbatasan kita adalah ruang yang luas yang menjadi tempat dimana kita menyaksikan mujizat dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita. Coba mundur beberapa saat dalam kehidupan kita, dan lihat situasi dan waktu dimana kita sekolah-olah begitu terbatas, bukankah Tuhan bekerja secara ajaib dan heran? itulah Tuhan.

Mengapa Tuhan ingin membuat kita “seolah-olah” terbatas dari berbagai sisi? Supaya kita tidak jatuh dalam roh kesombongan, dan bernasib sama seperti lucifer yang terjebak dalam kesombongannya sendiri. Tuhan itu merancangkan ratusan juta langkah kita didepan, sementara kita terkadang buta mengenai langkah kita selanjutnya.

Apa panggilan Tuhan dalam hidupmu? Kalau kamu merasa terbatas, bersiaplah melihat pekerjaan Tuhan yang tidak terbatas.

Dari meja kosong di kantor gereja,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Yakobus

DSC_0468

Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (Yak 1:1-3 TB)

Ayat diatas adalah dua kalimat yang begitu menarik perhatian saya pada saat teduh pagi saya hari ini. Yakobus (yang banyak diyakini sebagai Yakobus saudara dari Yesus), memulai suratnya dengan mengidentifikasikan dirinya sebagai hamba (dalam bahasa aslinya digunakan kata budak). Ia tidak menjelaskan dirinya sebagai saudara kandung Yesus, ia memilih dengan pilihan yang jauh lebih rendah, yang mengingatkan saya akan surat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang pribadi Yesus sendiri,

…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia… (Filipi 2:5-7 TB)

Setelah mengajarkan kita akan kerendahan hati lewat status yang tidak populer, ia melanjutkan suratnya dengan suatu ajakan untuk memiliki suatu sudut pandang yang berbeda dengan berkata, “….anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,….” Secara manusia, tidak ada yang bisa kita rayakan ketika kita melewati tantangan atau ujian, tetapi Yakobus mengajak kita untuk melihat sebagai suatu kebahagiaan ketika sepertinya tidak ada alasan untuk berbahagia.

Tujuan kita mengikut Yesus adalah supaya kita semakin dan serupa denganNya bukan kebahagiaan. Jika hari ini kita tidak berbahagia, sebetulnya karena kita yang memilih untuk tidak berbahagia. Kenapa kita perlu berbahagia dalam melewati setiap ujian? Karena hanya lewat ujianlah kita bisa mengetahui kualitas iman kita.

…..ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan……. Kata “ketekunan” dalam terjemahan lainnya digunakan kata “ketahanan”. Memiliki iman tidak berati kita hidup dalam kehidupan yang anti-badai seperti bulu mata syahrini, melainkan tahan badai. Badai tidak pernah mengetuk pintu, badai berjalan dalam rute yang dia inginkan. Jika kita ingin memarahi Tuhan karena badai yang sedang kita lewati, kita salah besar karena Yesus pun mengalami badai.

Jangan pernah menghampiri badai, hindarilah. Tetapi, ketika kita harus berhadapan dengan badai, berbahagialah.

 

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Akal

maxresdefault

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:6‭-‬7 TB)

Kuatir. Kuatir. Kuatir. Setiap orang pasti punya kekuatiran, tidak perduli seberapa tenangnya seorang manusia terlihat dari luar, pasti dia punya kekuatiran. Bagaimana mungkin kita hidup tanpa kekuatiran? Jawabannya adalah Mungkin. Bukan saya yang menjawab melainkan Alkitab.

Kekuatiran manusia itu biasanya berhubungan dengan hal-hal yang melampaui akalnya, ketika akalnya sudah tidak bisa berpikir akan langkah selanjutnya, manusia cenderung akan masuk kedalam kekuatiran. Seorang yang menghadapi hutang begitu besar dan tidak punya cukup penghasilan atau aset untuk melunasi hutangnya pasti kuatir. Seseorang yang secara didiagnosa secara medis sudah tidak ada harapan pasti kuatir. Dimana akal sudah tidak bisa menjangkau disitulah kekuatiran akan besar.

Masalahnya, ada terlalu banyak hal yang melampaui akal kita dan terkadang hal itu begitu cepat dan tiba tiba terjadi. Untuk setiap pertanyaan dan ketidakmegertian, Tuhan tidak menjanjikan pengertian tetapi Tuhan menjanjikan damai sejahtera. Damai sejahteraNya jauh melampaui akal kita. Ketika akal kita tidak bisa lagi berpikir, nyatakan keinginan kita kepada Tuhan dan mengucap syukurlah. Didalam doa yang disertai dengan pengucapan syukur, damai sejahteraNya akan turun dan menguasai hati dan pikiran kita.

Saya berdoa, melewati apapun yang sedang kita lewati hari-hari ini, kita bisa belajar mengucap syukur dan percaya bahwa Dia memelihara kita lewat damai sejahteraNya.

Jangan kamu kuatir.

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

The Holiness of God

WhatsApp Image 2018-08-19 at 22.26.36

Buku ini dalam satu kata

“Kudus”

Lembar Demi Lembar

Buku ini dengan rapih dan terstruktur menjelaskan betapa kudusnya Allah. Banyak dari kita terbiasa mendengar kata kudus, padahal harusnya kita gemetar dan sadar dalam kekudusanNya. Jika kita bisa menyelamatkan diri dalam getaran gempa bumi, tidak ada yang kita bisa lakukan dalam getaran kekudusan Allah. Buku ini menjelaskan hubungan antara Allah yang kudus, Allah yang adil, dan Allah yang penuh anugrah. Buku ini juga mengajarkan kita bagaimana seharusnya respon kita dalam melihat anugrah Allah.

Plak Momen

Gw sering banget mencoba berdebat dengan Tuhan tentang keadilannya dalam hidup gw seolah-olah gw merasa punya hak untuk mendapatkan keadilan Tuhan. Sampe gw belajar bahwa untuk nafas yang Tuhan berikan pun itu Tuhan sudah melanggar keadilannya sendiri. Seharusnya manusia kayak gw tidak layak untuk mendapatkan nafas. Ada halaman-halaman dan paragraf-paragraf yang ketika gw membacanya gw berkaca-kaca karena rasa syukur gw akan anugrah Tuhan yang luar biasa dalam hidup gw. Gw juga jadi sadar bahwa gw sering tidak sadar bahwa TUhan Allah itu ada disekitar gw. Kesadaran kita akan hadirat Allah akan menghargai bahkan kebaktian yang paling membosankan sekalipun.

GR Momen

Gak ada yang bisa bikin gw GR ketika membaca buku ini.

Semua Harus Tau

Gw ketemu buku ini di perpustakaan sekolah dan entah kenapa langsung pengen membacanya. Usut punya usut beberapa artikel dan video singkat di Youtube merekomendasikan buku ini untuk dibaca . Ratingnya di Goodreads juga bagus 4.4/5

Kesimpulan

Buku ini dari gaya penulisan, pemilihan contoh, dan referensi Alkitab sangat relevan dan bagus untuk kita baca. Buku ini membawa kata kudus pada proporsinya dan akan membuka mata rohani kita tentang kekudusan Allah. Gw sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Selamat membaca.

Posted in Book Review | Leave a comment

Jalan

Jalan.jpeg

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6 TB, penekanan oleh saya)

Pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang identik dengan pembangunan infrastruktur yang masif dan bersamaan. Dari sekian banyak proyek-proyek infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah kita, maka yang paling kelihatan adalah pembangunan jalan dimana-mana. Daerah-daerah yang tadinya jarang tersentuh seperti Papua, NTT, dan Kalimantan mulai merasakan kemudahan dalam hal transportasi berkat jalan yang dibangun oleh pemerintah. Menurut beberapa berita yang saya baca, sudah lebih dari 2600 km jalan dibangun atau diperbaharui oleh pemerintah kita yang sekarang ini.

Sebagai orang yang lahir di kota besar, saya terbiasa dengan jalanan yang enak dan nyaman, kecuali berpergian ke daerah-daerah terpencil, saya tidak pernah merasakan sesuatu yang luar biasa ketika melihat jalanan. Akan tetapi, bagi mereka yang tinggal di daerah tertinggal, jalan itu berharga.

Coba bayangin mall terdekat dari rumah kita masing-masing, lalu coba bayangkan tidak ada jalan menuju mall tersebut, kalaupun ada, dipenuhi hutan lebat tak terurus dan kita harus membuka jalan kita sendiri menuju mall tersebut, apakah kita masih ingin menuju mall tersebut? Atau coba banyangkan hal lain yang jauh lebih ekstrim, bayangkan ada gunung emas, yang kita bisa lihat, tapi tidak ada jalan kecuali kita bangun jalan sendiri dengan resiko nyawa kita, apakah kita masih semangat menggapai gunung tersebut?

Ayat diatas adalah ayat yang mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kali kita dengar, tetapi secara tidak sadar kita seringkali melewatkan arti dari ayat tersebut. Tidak perduli seberapa maha baiknya Allah kita, kalau tidak ada jalan menuju Allah maka percuma. Tidak perduli seberapa maha pengampunnya Allah kita, kalau tidak ada jalan menuju pengampunannya maka percuma. Tidak peduli seberapa besar anugrah Tuhan, kalau tidak ada jalan, tidak ada guna. Atau mungkin bayangkan kalau kita harus dengan kekuatan kita membangun jalan untuk menggapai Allah. Sudah tidak tahu Allah ada dimana, masih harus bangun jalan pula. Bagaimana mungkin kita bisa membangun jalan ke suatu tempat yang bahkan kita tidak tahu lokasinya.

Bersyukurkah kita bahwa Allah membangun jalan untuk kita bisa menggapaiNya lewat AnakNya sendiri, Yesus Kristus. Kita tidak membangun jalan melalui perbuatan baik kita yang terkadang baik untuk kita, tidak untuk orang lain, kita tidak membangun jalan melalui komitmen-komitmen kita yang seringkali gagal dalam pelaksanaanya, kita tidak membangun jalan lewat pemberian kita yang tidak ada apa-apanya dibanding pemberian Tuhan kepada kita. Kita hanya perlu berjalan dalam anugrah lewat kematian Yesus Kristus di kayu salib.

Bersyukur gak sih kita punya jalan?

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Sunat

Sunat

“Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Roma‬ ‭2:28-29‬ ‭TB‬‬, penekanan oleh saya)

Setelah berbicara panjang lebar di Roma 2 mengenai bagaimana cara hidup kita yang  seharusnya sebagai orang yang sudah bertobat dan mengenal Tuhan terlebih dahulu, Paulus berbicara tentang standar keaslian orang Yahudi. Menurut Paulus, orang Yahudi asli adalah orang yang disunat didalam hati bukan secara fisik, yang nampak diluar saja.

Apa yang menjadi menarik adalah bagaimana Paulus mengajarkan bagaimana cara menyunat hati kita? Terjemahan bahasa indonesia mengatakan sunat dalam hati adalah secara rohani (seperti ayat diatas), sedangkan terjemahan dalam bahasa inggrisnya berkata, by the Spirit (S-nya huruf besar yang menandakan Roh Kudus).

Apa yang terlihat rohani belum tentu lahir dari ketaatan kepada Roh. Hal ini menadakan bahwa kita harus punya kepekaan dan taat kepada Roh Kudus untuk menyunat hati kita. Belajar untuk menyelaraskan keinginan hati kita dengan keinginan Roh, atau dalam bahasa sunatnya adalah belajar untuk memotong keinginan dari hati kita yang tidak sesuai dengan keinginan Roh-nya. Pada prosesnya tentu tidak akan mudah dan sakit, sama seperti sunat pada zaman itu, teapi kita tahu bahwa hasil akhirnya akan baik untuk kita.

Itulah mengapa Paulus berkata akan ada pujian dari Allah, karena Allah yang tidak terlihat, memuji apa yang tidak terlihat oleh orang lain dalam hidup kita.

Selamat menyunat hati,

Cheers,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

VAR

VAR

“Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran.” (Maz 75:3 TB)

Piala dunia baru saja usai dengan Prancis keluar sebagai juaranya. Kesedihan akibat Kroasia kalah sudah dinetralisir dengan pempek, kentang goreng, nasi goreng daging asap, soto kuning, nugget, pizza, dan pie apel yang tersedia di rumah teman tempat saya nobar. Saya bukan mau bahas makanannya, saya mau bahas tentang VAR.

Salah satu hal yang menjadikan piala dunia kali ini berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya adalah penggunaan teknologi yang bernama VAR alias Video Assistant Referee. VAR adalah sebuah teknologi berupa video tayangan ulang yang membantu wasit dalam mengambil keputusan yang berpotensi mempengaruhi jalannya pertandingan seperti kartu merah, tendangan pinalti, gol yang berbau offside dan sebagainya. Jadi, seorang wasit bisa saja merubah keputusannya setelah melihat VAR. Salah satu gol yang tercipta pada final kemarin adalah akibat penerapan teknologi VAR yang walaupun keputusan yang diambil oleh wasit masih menjadi kontroversi sampai hari ini.

VAR adalah sebuah representasi dari jeritan setiap hati manusia untuk keadilan. Pertanyaaan selalu sama, apakah ada yang sadar ketika saya diperlakukan tidak adil? Jawabannya sederhana, Allah SELALU sadar.

Sadar atau tidak, hidup kita ini direkam secara detail dan presisi oleh Tuhan. Seringkali, asumsi kita adalah apa yang kita lakukan itu dicatat oleh Tuhan dan membuat kita berhati-hati atau bahkan takut dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi, mari coba lihat dari sisi yang lain. Sama seperti Tuhan merekam apa yang kita lakukan, Tuhan juga punya rekaman akan apa yang terjadi atau orang lakukan terhadap hidup kita dan rekaman itu adalah bahan dasar dari keputusanNya.

Menyadari ini akan memerdekakan kita dalam ketakutan akan ketidakadilan yang pernah, sedang, atau bahkan akan kita alami. Jangan takut, Allah punya rekamannyaTugas kita sederhana, hanya perlu berkonsentrasi untuk bertanding sebaik mungkin dalam pertandingan hidup kita, dan mengikuti peraturan pertandingan yang ada. Kita tidak perlu memusingkan apa yang orang lain lakukan terhadap kita, karena kita tahu bahwa  Allah punya rekamannya. Allah sebagai hakim yang adil akan mengambil keputusan yang akan berujung akan keuntungan kepada kita, hanya saja seringkali bukan pada waktu kita yang kita inginkan.

Ayat diatas memberikan dua hal yang penting yang perlu kita sadari. Hal penting pertama adalah Allah menghakimi dengan kebenaran, dan yang kedua adalah sesuai dengan waktu yang Dia sendiri tentukan. Dalam bahasa lebih sederhananya adalah, Ia pasti memutuskan dengan benar tetapi sesuai dengan waktu yang Ia sendiri tetapkan bukan waktu kita.

Tim favorit saya adalah Spanyol dan pada piala dunia kali ini Spanyol  disingkirkan oleh Rusia. Salah satu faktor kekalahan Spanyol adalah pinalti yang diberikan kepada Rusia  setelah bek Spanyol terlihat di video secara sengaja menahan bola dengan tangannya.  Dengan adanya VAR tidak akan ada lagi gol tangan Tuhan seperti yang dilakukan Diego Maradona, atau gol Frank Lampard ke gawang Jerman yang dianulir padahal jelas-jelas sudah melewati garis gawang. Semuanya terekam, dan akan diputar kembali.

VAR buatan manusia masih akan mengalami kontroversi demi kontroversi karena masih dibuat dan diputuskan oleh manusia yang tidak sempurna, tetapi VAR buatan Allah itu maha sempurna. Setiap kali kita merasa diperlakukan tidak adil, ambil napas yang dalam dan katakan kepada diri sendiri, “tenang, Allah punya rekamannya”.

Selamat bertanding!

Sambil kelaperan pengen makan martabak yang kejunya setebel martabaknya,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Kami

Doa Bapa Kami.jpg

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, (Mat 6:9 TB)

Ayat diatas adalah bagian dari ajaran Yesus akan bagaimana seharusnya cara yang benar dalam berdoa. Hal yang menarik dari apa yang Yesus ajarkan adalah ketika Dia menggunakan kata “kami” setelah kata “Bapa”. Pernah gak berpikir kenapa Yesus tidak menggunakan kata Bapa-Ku sebagai awalan dari doa yang diajarkanNya? Dalam ilmu bahasa indonesia yang baik dan benar, kata “kami” adalah kata ganti orang ketiga yang melibatkan banyak orang ketika digunakan.

Menggunakan kata “kami” adalah sebuah pesan yang Yesus ingin sampaikan bahwa  terlepas apapun situasi kita saat ini, kita adalah anak-anakNya. Saat itu Tuhan tidak bertanya tentang bagaimana situasi kehidupan rohani atau jasmani murid-muridNya. Dia langsung memulai dengan “Bapa kami……..”. Dia memulai dengan kata “Bapa” menunjukkan suatu sisi ke-Allah-an yang adalah Bapa yang memiliki kedekatan secara personal dengan anakNya (hampir semua/semua doa yang Yesus naikkan menggunakan kata Bapa), tetapi Dia juga menggunakan kata “kami” yang menggambarkan bahwa kita (manusia berdosa) juga punya hubungan yang sama dengan Allah sebagai Bapa.

Kita mungkin tidak tau siapa bapa kita, tetap Dia Bapa kita.
Kita mungkin sudah kehilangan bapa kita, tetap Dia Bapa kita.
Kita mungkin tidak punya figur seorang bapa yang baik, tetap Dia Bapa kita.
Kita mungkin adalah anak-anak yang selama ini mengecewakan, tetap Dia Bapa kita.

Pada akhir bulan dimana kita merayakan Father’s Day, marilah kita berpegang teguh dan bersyukur dalam kebenaran bahwa Allah adalah Bapa kita.

Happy belated Father’s day.

Dari depan bakso babi, sate babi, dan panggang babi, yang meminta dikonsumsi secepatnya,

Binsargideon

 

 

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Nama Baik

increase-brand-value-with-social-media-770x470

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”  (Amsal 22:1 TB, penekanan oleh saya)

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menarik dengan teman saya yang memiliki posisi yang lumayan tinggi di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Dalam diskusi kami, dia menyampaikan pendapat yang menggelitik saya, dia bilang “Sekarang bisnis mah aneh Gid, kalau zaman dulu orang berpikir  untuk berinvestasi di bisnis yang secepat mungkin bisa balik modal, kalau zaman sekarang, mau rugi yang penting ekspansi.” Lalu dia mulai menyebut beberapa nama bisnis yang sekarang ini sangat familiar di kuping saya seperti Go**k, N** TV, Gr*b, To*****ia. Saya pun kemudian bertanya kepadanya apa alasan dibalik metode bisnis mereka, dan teman saya ini menjawab sederhana, dia bilang “brand value“. Ketimbang mengejar untung sesegera mungkin, perusahaan zaman sekarang lebih memilih mengejar nilai dari merek yang mereka jual. Kalau saya boleh saya artikan dengan bahasa saya sendiri, perusahaan lebih mengejar nama baik sebelum mengejar untung.

Jauh sebelum ini semua terjadi, Raja Salomo dengan segala kekayaannya (raja yang paling kaya, dan tidak akan pernah ada yang lebih dari kaya), menulis hal yang sama. Masalahnya adalah, apa yang sedang kita kejar saat ini?

Dalam kenyataan hidup seringkali kita juga diperhadapkan pada pilihan harus memilih nama baik atau kekayaan dan kita punya kecenderungan untuk memilih kekayaan. Mungkin dalam bisnis, kita diperhadapkan pada pilihan berupa keuntungan yang besar yang cepat tetapi merugikan orang lain atau “sekedar” nama baik. Mungkin dalam pekerjaan, kita harus memilih nama baik atau gaji yang besar dengan menginjak orang lain. Disaat itu semua terjadi, pilihlah nama baik.

Mengapa? Perusahaan yang memiliki nama baik, walaupun mungkin di awal terkesan rugi, ratusan perusahaan besar lain (yang sudah lebih dulu dari mereka) mengantre untuk menanamkan modalnya kepada perusahaan dengan “nama baik”. Sama dengan perusahaan tersebut, demikian juga jika kita hidup dengan nama baik, hanya masalah waktu saja,  Tuhan akan memberkati kita secara luar biasa. Setelah kita diberkati, tetaplah berfokus kepada “nama baik” karena prinsipnya tidak akan berubah.

Kekayaan itu berharga, tapi lebih berharga nama baik.

Dari tempat ngopi dan sarapan enak di sunter,

Cheers,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment